Kamis, 28 Agustus 2014

Kartolo the legend of.....

Kartolo dan Perjalanan di Dunia Seni


Cinta Mati pada Ludruk
Cak Kartolo...Cak Kartolo...
Nama Kartolo atau lebih akrab dipanggil Cak Kartolo sudah tidak asing di dunia seni. Dia sering mendapatkan penghargaan atas dedikasinya melestarikan seni ludruk. Sebagai seorang pribadi, Kartolo adalah sosok yang sederhana dan rendah hati.
Ditemui di kediamannya, kawasan Kupang (26/8/2008), Kartolo terlihat segar. Saat ditanya berapa umurnya, dia bingung menjawab. ''Kalau di KTP tertulis tahun lahir saya 1947,'' katanya. Tetapi, dia sebenarnya lahir pada 1945. ''Maklum, dulu tidak ada aktanya,'' ucap pria berkumis tersebut.
Kartolo lahir di Pasuruan. Saat berumur tiga tahun, dia pindah ke Surabaya karena ayahnya, (alm) Aliman, bekerja di pabrik tenun daerah Juwingan. Tiga tahun kemudian, saat sang ayah meninggal, dia dan ibunya kembali ke kota kelahiran.
Mesem disik rek...Mesem disik rek...
Di Pasuruan itulah, Kartolo mulai mengenal seni. Tepatnya ketika duduk di kelas enam sekolah rakyat. Di sekitar lingkungan tempat tinggalnya, banyak pemain karawitan. Dia pun mulai belajar memainkan alat-alat musik karawitan. "Alat musik yang pertama kali saya pelajari itu gambang," ujarnya.
Dari belajar karawitan, Kartolo mulai mengiringi ludruk dan tayuban. Sebenarnya, darah seni sama sekali tidak mengalir di dalam darahnya. ''Ayah saya kerja di pabrik tenun, ibu saya petani,'' terang dia.
Bermula dari karawitan, Kartolo lantas mulai belajar menguasai kesenian yang lain. Termasuk ludruk. Pada 1960, untuk kali pertama dia manggung bersama kelompoknya. Respons yang didapat memuaskan. Namun, lima tahun kemudian, saat meletus G-30-S/PKI, Kartolo berhenti. "Dulu kan sempat dilarang," tuturnya.
Pada 1967, Kartolo kembali aktif ngludruk dengan bergabung bersama kelompok Sipur Lima Ludruk Dwikora. Pada 1969, dia pindah ke Ludruk Gajah Mada. Begitu seterusnya. Dengan pertimbangan ekonomi, dia berpindah-pindah, mencari grup yang punya jam manggung tinggi.
Kartolo in Action...Kartolo in Action...
Hingga pada 1971, Kartolo bergabung dengan Ludruk RRI. Dia berada di sana hanya tiga tahun. Ketika memutuskan untuk menikah dengan temannya, Kastini, pada 1974, Kartolo memilih keluar dari grup tersebut dan menjadi seniman "freelance".
Perkenalan Kartolo dengan Kastini sendiri terjadi sekitar 1972. Mereka merupakan sesama pemain ludruk. Sering dipasangkan sebagai suami istri, lama-lama tumbuh benih cinta sebenarnya. Setelah pacaran setahun, mereka memutuskan untuk menikah.
Pada 1976-1980, Kartolo kembali bergabung dengan sebuah grup ludruk bernama Persada Malang. Guyonannya yang khas membuat namanya kian melejit. Sampai akhirnya dia mendapatkan tawaran rekaman kaset. Mulailah Kartolo membuat kaset-kaset ludruk. Merasa masih memiliki potensi, Kartolo lantas melebarkan jalur seni menjadi pelawak.
Total, hingga pada 1995, Kartolo sudah memiliki 95 kaset rekaman ludruk. Meski demikian, jangan bayangkan dia sekarang hanya berleha-leha menikmati royalti dari hasil karyanya yang masih sering diperdengarkan di radio-radio itu. "Dulu kalau habis rekaman dapat uang langsung. Nggak ada royalti," jelas anak kedua dari empat bersaudara tersebut.
Kartolo CS...Kartolo CS...
Kartolo sendiri tidak menyangka dirinya bisa eksis di dunia seni hingga saat ini. Sampai sekarang dia masih menerima tawaran manggung. Meski tak seramai dulu, dalam sebulan pasti ada saja orang yang mengundang. Kartolo pun merasa tak perlu mencari pekerjaan lain.
Hidupnya yang lumayan berkecukupan saat ini benar-benar ditopang dari profesi sebagai seniman. "Saya sudah terlalu cinta sama ludruk. Nggak pengen dagang atau melakukan hal lain," tegasnya.
Saat ini, kalau sedang tidak ada jadwal manggung, Kartolo lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain bersama cucu, menonton televisi, atau berolahraga badminton. "Saatnya menikmati hidup," tuturnya lantas tersenyum.

indonesian Hero

TAN MALAKA, Biografi Terbesar Pahlawan Terlupakan dlm Sejarah Indonesia yg Dihargai di Eropa!


Karya Harry Poeze yang judulnya berarti Dihujat dan Dilupakan: Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia 1945-1949 sungguh luar biasa dari segi kuantitas dan kualitas. Terdiri atas tiga jilid setebal 2.194 halaman, buku ini bukan saja menggunakan dokumen Indonesia dan Belanda, tetapi juga arsip Rusia. Ini merupakan biografi terbesar dalam sejarah modern Indonesia.



Dalam lintasan sejarah, Tan Malaka merupakan salah satu tokoh revolusi kiri yang namanya hingga kini masih terus berkibar, paling tidak di Eropa. Sehingga tak heran jika Harry Poeze, peneliti senior sekaligus Direktur KITLV Belanda, menulis disertasi mengenai Tan Malaka pada tahun 1976 yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia dalam dua jilid. Poeze kemudian melanjutkan buku kisah perjalanan hidup Tan Malaka ini sampai akhir hayatnya pada 1949, yang dalam buku tersebut diungkap mengenai lokasi tewasnya Tan Malaka di Jawa Timur dan siapa yang menembaknya.

Penelusuran Poeze ternyata tidak hanya berhenti disitu, pada 8 Juni 2007 lalu, di Universitas Leide Belanda, Poeze meluncurkan buku yang berjudul ‘Verguisd en Vergeten, Tan Malaka; De linkse Beweging en Indonesische Revolutien 1945-1959’. Buku setebal 2194 halaman ini di jual seharga 99,90 euro di Eropa, dan cukup mendapat apresiasi dari halayak pembaca.[/SIZE]



Pejuang antikolonialisme

Sutan Ibrahim Gelar Datuk Tan Malaka lahir di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, tahun 1896. Ia menempuh pendidikan Kweekschool di Bukittinggi sebelum melanjutkan pendidikan ke Belanda. Pulang ke Indonesia tahun 1919 ia bekerja di perkebunan Tanjung Morawa, Deli.

Penindasan terhadap buruh menyebabkan ia berhenti dan pindah ke Jawa tahun 1921. Ia mendirikan sekolah di Semarang dan kemudian di Bandung. Aktivitasnya menyebabkan ia diasingkan ke negeri Belanda. Ia malah pergi ke Moskwa dan bergerak sebagai agen komunis internasional (Komintern) untuk wilayah Asia Timur. Namun, ia berselisih paham karena tidak setuju dengan sikap Komintern yang menentang pan-Islamisme.

Ia berjuang menentang kolonialisme "tanpa henti selama 30 tahun" dari Pandan Gadang (Suliki), Bukittinggi, Batavia, Semarang, Yogya, Bandung, Kediri, Surabaya, sampai Amsterdam, Berlin, Moskwa, Amoy, Shanghai, Kanton, Manila, Saigon, Bangkok, Hongkong, Singapura, Rangon, dan Penang. Ia sesungguhnya pejuang Asia sekaliber Jose Rizal (Filipina) dan Ho Chi Minh ( Vietnam).

Ia tidak setuju dengan rencana pemberontakan PKI yang kemudian meletus tahun 1926/1927 sebagaimana ditulisnya dalam buku Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia, Kanton, April 1925 dan dicetak ulang di Tokyo, Desember 1925). Perpecahan dengan Komintern mendorong Tan Malaka mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) di Bangkok, Juni 1927.

Walaupun bukan partai massa, organisasi ini dapat bertahan sepuluh tahun; pada saat yang sama partai-partai nasionalis di Tanah Air lahir dan mati.

Perjuangan Tan Malaka yang bersifat lintas bangsa dan lintas benua telah diuraikan secara rinci dalam dua jilid biografi yang ditulis Poeze. Setelah Indonesia merdeka, perjuangan Tan Malaka mengalami pasang naik dan pasang surut. Ia memperoleh testamen dari Bung Karno untuk menggantikan apabila yang bersangkutan tidak dapat menjalankan tugasnya.

Namun, tahun 1948, Tan Malaka dikenal sebagai penentang diplomasi dengan Belanda yang dilakukan dalam posisi merugikan Indonesia. Ia memimpin Persatuan Perjuangan yang menghimpun 141 partai/organisasi masyarakat dan laskar, menuntut agar perundingan baru dilakukan jika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia seratus persen.

Tahun 1949 Tan Malaka ditembak. Tanggal 28 Maret 1963 Presiden Soekarno mengangkat Tan Malaka sebagai pahlawan nasional. Namun, sejak era Orde Baru, namanya dihapus dalam pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah walau gelar pahlawan nasional itu tidak pernah dicabut. Adalah kebodohan rezim Orde Baru menganggap Tan Malaka sebagai tokoh partai yang dituduh terlibat pemberontakan beberapa kali. Tan Malaka justru menolak pemberontakan PKI tahun 1926/1927. Ia sama sekali tidak terlibat dalam peristiwa Madiun 1948. Bahkan, partai yang didirikan tanggal 7 November 1948, Murba, dalam berbagai peristiwa berseberangan dengan PKI.

Harry Poeze telah menemukan lokasi tewasnya Tan Malaka di Jawa Timur berdasarkan serangkaian wawancara yang dilakukan pada periode 1986 sampai dengan 2005 dengan para pelaku sejarah yang berada bersama-sama dengan Tan Malaka tahun 1949. Dengan dukungan dari keluarga dan lembaga pendukung Tan Malaka, sedang dijajaki kerja sama dengan Departemen Sosial Republik Indonesia untuk memindahkan kuburannya ke Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Tentu untuk ini perlu tes DNA, misalnya. Tetapi, Depsos dan Pemerintah Provinsi Jatim harus segera melakukannya sebelum masyarakat setempat secara sporadis menggali dan mungkin menemukan tulang belulang kambing yang bisa diklaim sebagai kerangka jenazah sang pahlawan nasional.

Temuan baru

Banyak penemuan baru yang terdapat dalam buku Tan Malaka yang terakhir ini. Sejarah revolusi Indonesia tahun 1945-1949 seperti diguncang untuk ditinjau ulang. Peristiwa Madiun 1948 dibahas sebanyak 300 halaman. Poeze menggunakan arsip Komintern yang terdapat di Moskwa.

Ia juga menemukan arsip menarik tentang Soeharto. Selama ini sudah diketahui bahwa Soeharto datang ke Madiun sebelum meletus pemberontakan. Soemarsono berpesan kepadanya bahwa kota itu aman dan agar pesan itu disampaikan kepada pemerintah. Poeze menemukan sebuah arsip menarik di Arsip Nasional RI bahwa Soeharto pernah menulis kepada "Paduka Tuan" Kolonel Djokosoejono, komandan tentara kiri, agar beliau datang ke Yogya dan menyelesaikan persoalan ini. Soeharto menulis "saya menjamin keselamatan Pak Djoko". Dokumen ini menarik karena ternyata Soeharto mengambil inisiatif sendiri sebagai penengah dalam peristiwa Madiun.

Dalam kondisi ini, Tan Malaka mungkin lebih cocok disebut sebagai pahlawan yang terlupakan. Mengapa demikian, karena Ia berpuluh-puluh tahun telah berjuang bersama rakyat, namun kemudian dibunuh dan dikuburkan disamping markas militer di sebuah desa di Kediri pada 1949, tanpa banyak yang tahu. Padahal ia lebih dari tiga dekade merealisasikan gagasannya dalam kancah perjuangan Indonesia. Ini dapat dilihat dari ketika Tan Malaka pertama kali menginjakkan kaki di tanah Jawa, yakni dengan mendirikan Sekolah Rakyat di Semarang. Padahal Tan Malaka ketika sedang dalam pengejaran Intelijen Belanda, Inggris dan Amerika.

Menurutnya, pendidikan rakyat jelas merupakan cara terbaik membebaskan rakyat dari kebodohan dan keterbelakangan untuk membebaskan diri dari kolonialisme. Tan Malaka dan gagasannya tidak hanya menjadi penggerak rakyat Indonesia, tetapi juga membuka mata rakyat Philipina dan semenanjung Malaya atau bahkan dunia.



Harry Poeze telah menemukan lokasi tewasnya Tan Malaka di Jawa Timur. Lokasi tempat Tan Malaka disergap dan kemudian ditembak adalah Dusun Tunggul, Desa Selopanggung, di kaki Gunung Wilis. Penembakan itu dilakukan oleh Suradi Tekebek atas perintah Letnan Dua Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya. Pada masa selanjutnya, Soekotjo pernah menjadi Wali Kota Surabaya dan terakhir berpangkat brigjen, meninggal tahun 1980-an.

Dalam penelitiannya Poeze juga memanfaatkan foto-foto sejarah. Rapat raksasa di lapangan Ikada (sekarang lapangan Monas) Jakarta, 19 September 1945, yang dihadiri 15.000 orang dari seputar Jakarta merupakan momen historis penting. Walau Indonesia sudah merdeka, peralihan kekuasaan belum terlaksana. Tentara Jepang masih memegang senjata dan mengancam jika rakyat mengadakan rapat lebih dari lima orang. Rapat raksasa di lapangan Ikada itu dirancang pemuda untuk memperlihatkan dukungan rakyat kepada proklamasi. Soekarno ragu untuk menghadiri rapat tersebut karena khawatir tentara Jepang melakukan penembakan massal terhadap penduduk. Rapat itu akhirnya berlangsung dan Soekarno berpidato beberapa menit.



Poeze sempat memeriksa foto-foto tentang peristiwa itu. Ia menemukan seseorang yang memakai helm di dekat Bung Karno ketika berpidato. Bahkan, pada salah satu foto, Soekarno dan orang itu berjalan berdampingan. Setelah membandingkan berbagai foto itu, berkesimpulan bahwa lelaki berhelm itu adalah Tan Malaka. Lelaki itu lebih pendek dari Soekarno dan ukurannya di foto ternyata cocok karena tinggi Soekarno adalah 1,72 meter dan Tan Malaka 1,65 meter.

Rabu, 27 Agustus 2014

senandung risau

    
          g                         em
.....oh bintang yang terang....
 
       am                  d
.......terangilah cintaku.......

          g                        em
.......oh bulan yang indah........

         am                    d
.......sinarilah rinduku...........


#  choruss:

         bm                                 em
.......banyak busur panah yang ku'lepas.........

          am                                   d
......tak satu'pun tercancap dihati'mu............

               bm                                      em
.............mengapa hawa tercipta di dunia...........

             am                                   d      
..........bila adam lama menunggu..........


#  reff:
          g                   em                  am                    d
.......cintaku,,......rinduku......kasihku.....tak bersambut.....(3X)

          g                                em
......ohhh....mawar yang wangi.......

           am                                d
......sudi'kah kau kuhirup harum'mu.......

          g                        em
.......hey,.......gadis jelita.........

         am                                    d
......tahu'kah kau....kumencintai'mu.......


 # back to chorrus

# back to reff

Senin, 25 Agustus 2014

romantisme

           siji,loro,telu.......asu gantet,,,,,asu gantet....asu gantet.... sambil menggigit salah satu potongan kayu sapu yang pendek kemudian yang panjang dipegang membelakangi tubuh lawan kami diarak ke penujru kampung yang sebelumnya sudah disepakati bersama jarak tempuh untuk medapatkan hukuman "Asu gantet"(ada dua bentuk dua potongan  yang panjang berukuran 30cm yang kecil berukuran 10cm) "Asu gantet" adalah bentuk hukuman kepada lawan kami yang kalah,ketika kami bermain permainan tradisional "pathil lele".
         
           Pathil lele dapat dimainkan secara tim maupun individu.Pathil lele hampir sama dengan permainan olah raga Kasti.bedanya jika kasti yang dipukul adalah bola,maka "Pathil lele" memukul sejauh mungkin potongan kayu yang pendek (10cm) sejauh mungkin.masing-masing tangkapan yg berhasil menangkap potongan kayu tersebut mendapatkan poin berbeda-beda.jika berhasil menangkap dengan tangan kiri,maka mendapatkan poin 15,20,25 dan bila menangkap dengan tangan kanan, maka akan mendapatkan poin 10,15,20 dan bila menangkap dengan kedua tangan maka akan mendapatkan poin 5,10,15.

          Didalam permainan Pathil lele ada 3 babak. babak pertama potongan kayu pendek ditaruh diatas kubangan tanah,kemudian dicukit sekuat mungkin agar bisa terbang sejauh mungkin.apabila kayu kecil tidak berhasil ditangkap,maka tim lawan (seluruh personil lawan dapat menjaga dimana terdapat batas minimal yang ditandai garis didepan kubangan tanah) berkesempatan untuk mengambil alih permainan dengan melempar kayu pendek tersebut untuk mengenai tepat kayu panjang yang diletak'kan diatas kubangan tanah.

         Pada babak kedua potongan kayu panjang dan pendek dipegang disalah satu tangan kemudian di'ayunkan sembari melakukan jugling dengan kayu panjang dipukulkan ke kayu kecil kemudian diakhiri dengan pukulan sejauh mungkin.apabila lawan dapat menangkap potongan kayu tersebut,maka lawan akan mendapatkan poin seperti yang saya sebutkan diatas.dan bila lawan tidak berhasil menangkap potongan kayu maka terjadi penghitungan  (penghitungan dinilai berdasarkan jugling yang dilakukan.bila jugling hanya 1X maka penghitungan dilakukan dengan kayu potongan panjang dimulai dari kayu kecil tersebut jatuh sampai diakhiri di dalam kubangan tanah.apabila jugling dilakukan 2X maka penghitungan dapat dilakukan dengan menggunakan potongan kayu kecil.apabila jugling dilakukan lebih dari 2X maka penghitungan dilakukan dengan potongan kayu kecil kemudian hitungan dilipat gandakan.)
      
         Pada babak ketiga potongan kayu kecil diletakkan diatas kubangan tanah kemudian dipukul dan dilakukan jugling.(penghitungan sama seperti aturan dibabak kedua) pada umumnya permainan tradisional ini diakhiri dengan kesepakatan kedua tim.biasanya tim mana yang memperoleh poin 300 dulu, maka tim tersebut menjadi pemenangnya.

Dengan semakin majunya perkembangan jaman,maka permainan Pathil lele pun menjadi punah.bahkan didesa-desa pun sudah tidak ada permainan ini.kalaupun ada itupun terdapat didesa-desa terpencil.mudah-mudahan dengan romantisme tulisan ini,segala permainan tradisional di indonesia dapat muncul kembali  dan kembali dimainkan oleh anak-anak Indonesia.



Salam Pathil lele,
  

   

Minggu, 24 Agustus 2014

Surabaya Punya Cerita: MENELUSURI MAKAM KEMBANG KUNING

Surabaya Punya Cerita: MENELUSURI MAKAM KEMBANG KUNING: Apa yang ada di pikiran kita saat mendengar kata batu nisan di makam? Kesan seram, takut, dan bayangan hantu pasti menyelimuti otak keci...

risallah umat

                 " berikan senyuman....,sudahlah,biar terjadi.....tenangkan jiwa kita....pastikan akan baik-baik saja...itu sudah kehendak illahi....jika sudah dikendaki....mutlak sudah..... tak ada yang bisa merubah...dan tak'kan bisa berubah....."

                  " bila matahari selalu bersinar dan slalu menyinari bumi.....,aku yakin begitupun dengan engkau,dapat selalu menyinari hati dan denyut tubuh ini.katakan kalau kau cinta aku....demi tuhan...bersumpah'lah....katakan kau sayang aku....demi tuhan bersumpahlah...

               " berikan senyuman....,sudahlah,biar terjadi.....tenangkan jiwa kita....pastikan akan baik-baik saja...itu sudah kehendak illahi....jika sudah dikendaki....mutlak sudah..... tak ada yang bisa merubah...dan tak'kan bisa berubah....."
 
               "gaya'mu bak seorang ratu....tak mudah dipeluk...tak mudah dicium...parasmu cantik bak bidadari menebarkan wangi surga..... halus tutur kata'mu.....selayaknya wanita bicara...aku akui aku cinta...aku akui aku tergila-gila...karna kau anggun...karna kau anggun.....
                    
               " berikan senyuman....,sudahlah,biar terjadi.....tenangkan jiwa kita....pastikan akan baik-baik saja...itu sudah kehendak illahi....jika sudah dikendaki....mutlak sudah..... tak ada yang bisa merubah...dan tak'kan bisa berubah....."
            
               " hai pagi...katakan aku menunggu'nya slalu....hai siang dadaku slalu bergetar mendengar tuturnya,mencium wanginya.....duhai malam aku terbang melayang jauh ketika dia setuju menjadi sangkar maduku......selamanya dan selamanya...
             
              " berikan senyuman....,sudahlah,biar terjadi.....tenangkan jiwa kita....pastikan akan baik-baik saja...itu sudah kehendak illahi....jika sudah dikendaki....mutlak sudah..... tak ada yang bisa merubah...dan tak'kan bisa berubah....."   

              " cintaku,cintamu juga......sayangku,sayangmu juga....rinduku,rindumu juga....selaraskan semuanya...padukan semuanya....hidup ini indah...hidup ini mempesona... hidup ini berwarna....bila kau slalu dan slalu disiku...dihidupku...."

               " berikan senyuman....,sudahlah,biar terjadi.....tenangkan jiwa kita....pastikan akan baik-baik saja...itu sudah kehendak illahi....jika sudah dikendaki....mutlak sudah..... tak ada yang bisa merubah...dan tak'kan bisa berubah....."

              " bila apa yg kau tahu tentang aku salah.....bila apa yang kau tahu tentang aku bohong.......yakinkan,aku adalah milikmu....yakinkan kamu milik'ku.......aku cinta kekuranganmu...aku cinta kelebihanmu....aku cinta kesalahanmu...aku cinta kebenaranmu...."

             " berikan senyuman....,sudahlah,biar terjadi.....tenangkan jiwa kita....pastikan akan baik-baik saja...itu sudah kehendak illahi....jika sudah dikendaki....mutlak sudah..... tak ada yang bisa merubah...dan tak'kan bisa berubah....."
       
            " demi nafas terakhir...yakinlah kita akan bertemu.....demi nafas terakhir....pastikan kita slalu bersama.....demi nafas terakhir....aku ada untukmu.....demi nafas terakhir...engkau ada untuk'ku.....hingga hembusan nafas terakhirku dan terakhirmu...."
           
             " berikan senyuman....,sudahlah,biar terjadi.....tenangkan jiwa kita....pastikan akan baik-baik saja...itu sudah kehendak illahi....jika sudah dikendaki....mutlak sudah..... tak ada yang bisa merubah...dan tak'kan bisa berubah....."



.