siji,loro,telu.......asu gantet,,,,,asu gantet....asu gantet.... sambil menggigit salah satu potongan kayu sapu yang pendek kemudian yang panjang dipegang membelakangi tubuh lawan kami diarak ke penujru kampung yang sebelumnya sudah disepakati bersama jarak tempuh untuk medapatkan hukuman "Asu gantet"(ada dua bentuk dua potongan yang panjang berukuran 30cm yang kecil berukuran 10cm) "Asu gantet" adalah bentuk hukuman kepada lawan kami yang kalah,ketika kami bermain permainan tradisional "pathil lele".
Pathil lele dapat dimainkan secara tim maupun individu.Pathil lele hampir sama dengan permainan olah raga Kasti.bedanya jika kasti yang dipukul adalah bola,maka "Pathil lele" memukul sejauh mungkin potongan kayu yang pendek (10cm) sejauh mungkin.masing-masing tangkapan yg berhasil menangkap potongan kayu tersebut mendapatkan poin berbeda-beda.jika berhasil menangkap dengan tangan kiri,maka mendapatkan poin 15,20,25 dan bila menangkap dengan tangan kanan, maka akan mendapatkan poin 10,15,20 dan bila menangkap dengan kedua tangan maka akan mendapatkan poin 5,10,15.
Didalam permainan Pathil lele ada 3 babak. babak pertama potongan kayu pendek ditaruh diatas kubangan tanah,kemudian dicukit sekuat mungkin agar bisa terbang sejauh mungkin.apabila kayu kecil tidak berhasil ditangkap,maka tim lawan (seluruh personil lawan dapat menjaga dimana terdapat batas minimal yang ditandai garis didepan kubangan tanah) berkesempatan untuk mengambil alih permainan dengan melempar kayu pendek tersebut untuk mengenai tepat kayu panjang yang diletak'kan diatas kubangan tanah.
Pada babak kedua potongan kayu panjang dan pendek dipegang disalah satu tangan kemudian di'ayunkan sembari melakukan jugling dengan kayu panjang dipukulkan ke kayu kecil kemudian diakhiri dengan pukulan sejauh mungkin.apabila lawan dapat menangkap potongan kayu tersebut,maka lawan akan mendapatkan poin seperti yang saya sebutkan diatas.dan bila lawan tidak berhasil menangkap potongan kayu maka terjadi penghitungan (penghitungan dinilai berdasarkan jugling yang dilakukan.bila jugling hanya 1X maka penghitungan dilakukan dengan kayu potongan panjang dimulai dari kayu kecil tersebut jatuh sampai diakhiri di dalam kubangan tanah.apabila jugling dilakukan 2X maka penghitungan dapat dilakukan dengan menggunakan potongan kayu kecil.apabila jugling dilakukan lebih dari 2X maka penghitungan dilakukan dengan potongan kayu kecil kemudian hitungan dilipat gandakan.)
Pada babak ketiga potongan kayu kecil diletakkan diatas kubangan tanah kemudian dipukul dan dilakukan jugling.(penghitungan sama seperti aturan dibabak kedua) pada umumnya permainan tradisional ini diakhiri dengan kesepakatan kedua tim.biasanya tim mana yang memperoleh poin 300 dulu, maka tim tersebut menjadi pemenangnya.
Dengan semakin majunya perkembangan jaman,maka permainan Pathil lele pun menjadi punah.bahkan didesa-desa pun sudah tidak ada permainan ini.kalaupun ada itupun terdapat didesa-desa terpencil.mudah-mudahan dengan romantisme tulisan ini,segala permainan tradisional di indonesia dapat muncul kembali dan kembali dimainkan oleh anak-anak Indonesia.
Salam Pathil lele,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar