Jumat, 29 Agustus 2014

Robin Hood from..

Kusni Kasdut, Pejuang yang Terbuang

Revolusi meruntuhkan sistem nilai lama dan menyusun sistem nilai baru. Sedikit orang merenung dan mempertanyakan segala sesuatu dalam revolusi itu. Kebanyakan bertindak, larut tanpa bentuk di dalamnya dan mencari identitas yang terus terlepas. Kalaupun ada, salah satu pencari itu bernama Kusni Kasdut.

Semasa revolusi, Kusni ditugaskan melakukan hal-hal yang waktu itu dianggap perbuatan kepahlawanan. Akan tetapi selewat revolusi, perbuatan itu dinilai sebagai tindak pidana. Cerita demikian memang bisa didengar di mana pun, setelah revolusi selesai. Memang revolusi merupakan penjungkir-balikan segala nilai.


Kusni Kasdut yang bernama asli Waluyo, adalah seorang anak yatim dari keluarga petani miskin di Blitar. Terlahir dengan kemiskinan yang terus menghantuinya, tanpa revolusi, mustahil dapat beristrikan seorang gadis indo dari keluarga menengah, sekali pun telah diindonesiakan sebagai Sri Sumarah Rahayu Edhiningsih. Istri yang ia cintai, ia kagumi, bahkan ia puja itu melahirkan tekad untuk memperbaiki kehidupannya.

Ia mencoba mencari pekerjaan yang sepadan dengan martabatnya yang baru, dan kegagalan demi kegagalan ia dapat. Untuk kesekian kalinya,--berbekal pengalaman semasa revolusi ‘45--ia berusaha masuk anggota TNI, tetapi ditolak. Penolakan ini disebabkan sebelumnya ia tak resmi terdaftar dalam kesatuan. Selain itu, pada kaki kirinya terdapat bekas tembakan yang ia dapat semasa perang fisik melawan Belanda. Akibatnya, cacat secara fisik.

Kegagalan-kegagalan tersebut membentuknya ia seolah diperlakukan tidak adil oleh penguasa waktu itu, seperti ‘habis manis sepah dibuang’. Hal tersebut menimbulkan obsesi untuk merebut keadilan dengan sepucuk pistol, membenarkan diri memperoleh rejeki yang tak halal. Terlebih lagi membiarkan anak dan istrinya terlantar. Bersama teman senasip dan seperjuangan yang tak ada harapan untuk menyambung hidup, Kusni pun akhirnya merampok.

Demikian kegagalan sosial ekonomi dan keterdamparan psikologi telah mengantar individu memasuki dunia hitam. Kusni tak sendiri. Masih banyak Kusni-kusni lain, seorang di antaranya adalah Bir Ali. Anak Cikini kecil (sekarang belakang Hotel Sofyan), mantan suami penyanyi Ellya Khadam. Bernama lengkap Muhammad Ali dan dijuluki Bir Ali--karena kesukaannya menenggak bir sebelum melakukan aksi-- menjalani hukuman mati pada 16 Februari 1980. Bir Ali-lah yang membunuh Ali Badjened (seorang Arab kaya raya ketika rumahnya di rampok).
“Ada satu kesamaan antara Kusni Kasdut, Mat Pelor, dan Mat Peci. Mereka dulunya adalah para pejuang '45, memilih jalan pintas untuk menyambung hidup. Mereka kecewa atas penguasa jaman itu karena kurang diperhatikan masa depannya.”

Pada mulanya, Kusni, dengan segala keramahan Usman, Mulyadi dan Abu Bakar mengundangnya masuk, bahkan memberikan posisi memimpin kepadanya. Kebetulan, ia memang dilahirkan dengan garis (instink) memimpin. Dan seperti buah terlarang, hal itu memang manis dan membuat ketagihan. Seperti seorang morfinis, Kusni tak dapat berhenti. Bahkan jeweran kuping dari seorang yang dikasihi dan dihormatinya, Subagio, tak mempan. Pengalaman tertangkap Belanda semasa revolusi, membuatnya memandang penjara sebagai lembaga tempat penyiksaan yang sah. Hanya untuk menghindari penangkapan, ia rela membunuh korbannya (itupun bila dianggap terlalu terpaksa).

Berbekal sepucuk pistol, tahun 1960-an, Kusdi bersama Bir Ali merampok dan membunuh seorang Arab kaya raya bernama Ali Badjened. Ali Badjened dirampok sore hari ketika baru saja keluar dari kediamannya di kawasan Awab Alhajiri, Kebon Sirih. Dia meninggal saat itu juga akibat peluru yang ditembakkan dari jeep. Peristiwa ini sangat menggemparkan ketika itu, karena masalah perampokan disertai pembunuhan belum banyak terjadi seperti sekarang ini.

Berselang satu tahun, tepatnya tanggal tgl 31 Mei 1961, Ibukota dibuat geger. Dimana terjadi perampokan di Museum Nasional Jakarta (Gedung Gajah). Bak sebuah film, Kusni yang menggunakan jeep dan mengenakan seragam ala polisi, menyandera pengunjung dan menembak mati seorang petugas museum. Dalam aksi ini, ia berhasil membawa lari 11 permata koleksi museum tersebut. Kusni Kasdut menjadi buronan terkenal.

Sekian tahun menjadi buronan, Kusni Kasdut tertangkap ketika mencoba menggadaikan permata hasil rampokannya di Semarang. Petugas pegadaian curiga karena ukurannya yang tidak lazim. Akhirnya ia ditangkap, dijebloskan ke penjara dan dihukum mati atas rangkaian tindak kejahatannya.


Pada masanya, Kusni adalah penjahat spesialis barang antik. Kisahnya sebagai sosok penjahat berdarah dingin ternyata tidak hanya dikenang oleh para korban atau keluarga korban. Ia juga sempat dijuluki Robin Hood Indonesia, karena ternyata hasil rampokannya sering di bagi-bagikan kepada kaum miskin. Bahkan sekitar tahun 1979, sebuah media memuat cerita bersambung berjudul “Kusni Kasdut”. Cerita yang mengkisahkan tentang sepak terjang penjahat kakap bernama Kusni Kasdut, yang dalam salah satu aksinya menggegerkan Museum Nasional Jakarta. Juga sempat dijadikan ide untuk lagunya God Bless dengan judul “Selamat Pagi Indonesia” di album Cermin. Lirik lagu ini ditulis oleh Theodore KS, wartawan musik Kompas.


Masa Tahanan
Dalam keterasingannya di penjara, yang jauh dari orang-orang dicintai, Kusni bertobat dan menyesali kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya. Ini terjadi ketika dalam penjara, ia berkenalan dengan seorang pemuka agama Katolik. Ia pun memutuskan menjadi pengikut setianya dan dibaptis sebagai pemeluk Katolik dengan nama Ignatius Kusni Kasdut.

Rasa cinta terhadap agama yang dianutnya ia coba tuangkan dengan sebuah karya lukisan dari gedebog (pohon pisang). Dalam lukisan tersebut,--yang sampai sekarang masih tersimpan rapi di Museum Gereja Katederal Jakarta--tergambar dengan rinci Gereja Katedral lengkap dengan menara dan arsitektur bangunannya yang unik.


Seperti yang dituturkan oleh Eduardus Suwito (pengurus Museum Katedral), “sebagai tanda terima kasihnya, Kusni Kasdut memberikan lukisannya itu kepada Gereja Katedral Jakarta. Dan beberapa hari setelah itu, Kusni Kasdut ditembak mati.”

Selain lukisan, Eduardus Suwito juga sempat memperoleh surat dari almarhum Kusni Kasdut. Dalam surat tersebut tertulis keinginannya untuk dapat bertemu dengan keluarganya sebelum eksekusi dijalankan. Surat tersebut juga menuliskan tentang pertobatan Kusni dan pengakuannya akan hal tersebut kepada pihak keluarga.

Sebelum dieksekusi mati, keinginan tersebut terpenuhi. Sembilan jam di ruang kebaktian Katolik LP Kalisosok, Kusni dikelilingi oleh keluarganya: Sunarti (istri keduanya), Ninik dan Bambang (anak dari istri pertama), Edi (menantu, suami Ninik) dan dua cucunya, anak Ninik. Itulah jamuan terakhir Kusni dengan capcai, mie dan ayam goreng.

Seperti dikisahkan oleh seorang pendengarnya. Kusni yang memeluk Ninik berkata, “Saya sebenarnya sudah tobat total sejak 1976. Situasilah yang membuat ayah jadi begini. Sebenarnya ayah ingin menghabiskan umur untuk mengabdi kepada Tuhan. Tapi waktu terlalu pendek.” Ninik dan yang lain menangis. “Diamlah,” lanjutnya, “Ninik kan sudah tahu ayah sudah pasrah. Ayah yakin, Tuhan sudah menyediakan tempat bagi ayah. Maafkanlah ayah.”

Begitulah keadaan, dimana Dewi Justitia (Dewi Keadilan) yang menggiurkan itu sekali-sekali perlu minta sesajen. Kusni Kasdut dituntut sebagai sesajen oleh sang dewi, hukuman seumur hidup terlalu ringan bagi seorang napi sekaliber Kusni. Apakah setelah Kusni ditembak, masyarakat menjadi lebih baik dan lebih aman, itu soal lain.
“Manusia tidak berhak mencabut nyawa orang, dan nafsu tidak bisa dibendung dengan ancaman,” (Sudarto, penasehat hukum Kusni Kasdut)

Memang, Kusni Kasdut bukanlah seorang pembunuh pathologik seperti Eddie Sampak dari Cianjur. Ia tak pernah terperosok ke dalam homoseksulitas seperti Henky Tupanwael. Di relung hatinya yang terdalam masih tersisa seberkas cahaya. Itu bisa dilihat dari usahanya menyelamatkan dua orang plonco dunia kejahatan, Roi dan Yoji, dari kehancuran total. Juga, kelakuannya sebagai napi cukup baik. Ia tak pernah berkelahi dengan sesama napi, dan kalau tak terpaksa tak pernah melawan petugas.

Kusni Kasdut yang sempat dijuluki Robin Hood Indonesia, juga dikenal sebagai si Kancil. Selain gesit dan banyak akal, kemampuan lain yang pernah miliki adalah ia mampu melarikan diri dari penjara mana pun. Kisahnya ini tercatat sebanyak tujuh kali Kusni meloloskan diri dari penjara. Sementara, Jack Masrene, salah seorang penjahat legendaris Perancis, tercatat berhasil kabur dari penjara sebanyak lima kali. Kusni Kasdut mengakhiri hidupnya di depan regu tembak, Jack Masrene mati diberondong di jalanan ketika hendak menyalakan mobilnya yang tengah parkir.

Begitulah akhir dari riwayat perjalanan Kusni Kasdut, yang pada masa perjuangan, ia seorang pemuda yang simpatik, ramah, juga sangat pendiam. Seorang mantan pejuang revolusi yang baik, betapa pun catatan kejahatannya, almarhum Kusni lebih terhormat ketimbang tuan-tuan quisling yang kini menikmati buah manis. Memang sejarah penuh ironi, dimana revolusi memakan anaknya. Dengan tegar, Ia menjalani hukuman mati di depan regu tembak pada 16 Februari 1980.



Puisi Kusni Kasdut

haru – biru

kehidupan adalah perlawanan tanpa penyesalan

kesalahan hanyalah lawan kata kebenaran

selanjutnya engkau pasti tahu

tahun 1976 ku bertobat

semua yang ada tak selalu terlihat

jarak antar saat begitu dekat

situasilah yang memaksa dan membuat kuberlari

rindukan terang

pada pekat malam kuterjang

serpihan paku, kaca dan kawat berduri

bulan tak peduli, turuti kata hati

hati menderu-deru, belenggu memburu

beradu cepat dengan peluru

kusadari hidupku hanya menunggu

suara 12 senapan dalam satu letupan

satu aba-aba pada satu sasaran

yaitu ajalku....

(Ignatius Waluyo AKA Kusni Kasdut, menuju eksekusi hukuman mati pada 16 Februari 1980).

dolly..dolly...

Sejarah Lokalisasi Gang Dolly terkubur sampai di sini?

Hari ini, Rabu 18 Juni 2014, akan menjadi hari yang bersejarah bagi warga Surabaya dan dunia prostitusi. Sebab, lokalisasi yang konon terbesar di Asia Tenggara, yakni lokalisasi yang terkenal dengan sebutan Gang Dolly, ditutup secara resmi oleh pemerintah Kota Surabaya.
Mulai hari ini, Kota Pahlawan ini ingin mengubah sebutan kota seribu Pekerja Seks Komersial (PSK) dengan kota budaya. Wali Kota Tri Rismaharini menginginkan, saat orang berbicara soal Surabaya, bukan lokalisasinya yang disebut-sebut, tapi budayanya. Surabaya yang memelihara budaya positif warganya.
Perwakilan ormas Islam Jatim menemui Risma di ruang kerjanya. (Kompas)
Perwakilan ormas Islam Jatim menemui Risma di ruang kerjanya. (Kompas)
Penutupan Dolly, adalah cerita akhir upaya Risma membersihkan Surabaya dari lokalisasi. Sebelumnya, tiga titik lokalisasi sudah ditutup sejak akhir 2013, oleh wali kota yang dijuluki Singa Betina ini, yaitu lokalisasi Dupak Bangunsari, Moroseneng, dan Sememi.
“Penutupan Dolly dan Jarak memang diakhirkan karena karakter masalah sosialnya lebih kompleks dari tiga lokalisasi yang ditutup sebelumnya,” kata Kepala Dinas Sosial Kota Surabaya Supomo, Selasa (18/6/2014) malam seperti dilansir Kompas.
Di Dolly dan Jarak ada puluhan wisma, ratusan mucikari, dan ribuan PSK. Mereka sudah hidup rukun berdampingan dengan warga setempat di lima RW, di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan selama puluhan tahun. Warga setempat pun memperoleh efek ekonomi dari adanya aktivitas prostitusi itu.
Wajar jika kemudian, warga pekerja lokalisasi menolak keras kebijakan penutupan yang berdasarkan Perda No 9 Tahun 1999 tentang larangan penggunaan bangunan untuk kegiatan prostitusi itu. Hampir sebagian besar pekerja Dolly dari pemilik wisma, mucikari, PSK, dan pedagang kecil, menolak keras penutupan. Mereka bahkan bersedia perang dengan pemerintah jika tetap akan ada penutupan.
Pekerja Dolly yang membentuk elemen Fron Pekerja Lokalisasi (FPL) juga menyatakan menolak segala bentuk kompensasi penutupan berupa modal usaha dan pelatihan keterampilan ekonomi yang diberikan pemerintah. Padahal, pemerintah melalui Kemensos sudah menganggarkan Rp 8 miliaran untuk penanganan PSK, Rp 1,5 miliar dari pemprov Jatim untuk mucikari, dan Rp 16 miliar dari Pemkot Surabaya untuk menebus wisma lokalisasi.
Pemkot Surabaya tetap ngotot melakukan penutupan. Masa depan generasi bangsa, adalah alasan yang selalu disebut-sebut walikota perempuan pertama Surabaya itu dalam mengutarakan alasan utama penutupan. Seremoni deklarasi penutupan Dolly sudah disiapkan dengan rapi pada Rabu (18/6/2014) malam, dengan mengundang Menteri Sosial, Salim Segaf Aldjufri sebagai deklarator.
Pasang surut pekerja Dolly
PSK di Dolly
PSK di Dolly
Lokalisasi Dolly berada di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya. Di kiri kanan jalan sepanjang kurang lebih 150 meter dengan lebar sekitar 5 meter ini banyak berdiri wisma-wisma, klub malam dan tempat karaoke.
Wilayah lokalisasi prostitusi yang beraktivitas mulai sekitar tahun 1960-an ini mencakup 5 RW dan berada di kawasan padat penduduk. Sebagian besar penduduk sekitar juga memanfaatkan keberadaan wisma-wisma itu dengan berjualan kopi, rokok ataupun makanan. Ditempat rumah-rumah itulah pada pekerja seks komersial dan juga mucikari tinggal.
Jumlah PSK di kawasan Dolly tidak pasti, kadang naik terkadang juga berkurang. Menurut Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, sebagian besar PSK yang ada di kawasan itu bukanlah warga Kota Surabaya. Sejak lama, dia juga telah mewanti-wanti agar jumlah PSK tidak bertambah. Bahkan pihak pemkot maupun pemprov terus berupaya memulangkan para PSK ke daerah asal.
Berdasarkan data Dinas Sosial Kota Surabaya beberapa hari sebelum dilakukan penutupan, jumlah PSK sebanyak 1.449 dengan mucikari sekitar 311 orang. Jumlah ini memang meningkat dari data akhir 2013 yang hanya sebanyak 1.181 orang.
Jumlah inilah yang diusulkan untuk mendapatkan uang saku dari Kementerian Sosial. Hal ini terkait dengan rencana penutupan Dolly pada 18 Juni 2014. Penambahan jumlah PSK ini terlihat setelah dihembuskan rencana penutupan Dolly.
Berdasarkan data, 90 persen PSK berasal dari luar Kota Surabaya bahkan luar Provinsi Jawa Timur. Sedang 10 persennya berasal dari Kota Surabaya. Seperti Kabupaten Kudus, Batang, Ciamis dan Bandung. Sedangkan yang dari Jawa Timur antara lain berasal dari Kabupaten Madiun, Malang, Gresik, Blitar, Mojokerto, Pasuruan, Magetan, Jember, Bojonegoro, Sidoarjo, Nganjuk, Tuban, Trenggalek dan Jombang.
Konon, jumlah PSK di kawasan Dolly sempat mencapai 5.000 orang. Inilah yang menjadikan Dolly sangat terkenal. Bahkan banyak yang mengatakan belum ke Surabaya jika belum ke Dolly.
Selain itu, Dolly biasanya akan mendapatkan PSK-PSK baru setelah usai libur lebaran. Sebab biasanya PSK lama akan membawa orang-orang dari kampungnya untuk ikut bekerja di Dolly.
Hal ini pulalah yang menjadikan alas an penutupan Dolly dilakukan sebelum puasa. Dan adanya penambahan PSK itu juga membuat Pemkot semakin tegas untuk melakukan penutupan, meski penolakan terus saja terjadi.
Sebagian besar PSK dan mucikari Dolly memang mengaku tidak setuju dengan rencana penutupan tersebut. Alasannya yakni karena bisnis esek-esek yang dijalankan sudah terlanjur makmur. Puluhan juta rupiah bisa diperoleh setiap bulannya dari satu wisma.
Setiap PSK bisa mengantongi uang sekitar Rp 13 juta hingga Rp 15 juta per bulan. Sedangkan sang mucikari tentu jauh lebih banyak yakni bisa mencapai Rp 60 juta per bulan. Geliat ekonomi ini bukan hanya dirasakan PSK dan mucikari, namun juga warga sekitar seperti pedagang kaki lima (PKL), pengayuh becak, tukang cuci pakaian PSK, hingga warga sekitar yang bekerja sebagai makelar PSK.
Hal inilah yang menjadi alasan mereka untuk tetap mempertahankan keberadaan Dolly. Pendapatan uang dalam jumlah besar yang bisa diperoleh dengan mudah. Hal ini pulalah yang membuat PSK Dolly selalu bertambah dan hanya sebagian kecil yang mau beralih profesi dan dipulangkan.
Sejarah Lokalisasi Gang Dolly
Demo penutupan Dolly
Demo penutupan Dolly
Menurut cerita lokalisasi ini didirikan Noni Belanda, Tente Dolly itu bukan yang pertama. Namun lebih terkenal se-antero Asia Tenggara dibanding pendahulunya, yaitu Jarak. “Jarak itu lebih dulu ada dibanding Gang Dolly,” kata Teguh, warga sekitar Gang Dolly seperti dilansir Merdeka.
Jarak sendiri, merupakan limpahan dari lokalisasi yang ada di Jagir, Wonokromo. Lantas siapa Tante Dolly, yang kelak namanya diabadikan sebagai Gang Dolly? Mengapa namanya begitu melegenda di jagat prostitusi Tanah Air? Teguh memaparkan, Noni asal Belanda itu adalah mucikari sekaligus pemilik wisma di Cemoro Sewu, yang berada di kawasan Pemakaman Kembang Kuning, Kelurahan Banyu Urip, Kecamatan Sawahan, Surabaya.
“Tante Dolly dan anaknya, itu pernah ngontrak rumah di daerah Ronggo Warsito, Kecamatan Wonokromo. Dan kebetulan yang dikontrak itu rumah ibu saya, yang saat ini usianya sudah 70 tahun lebih,” lanjut dia.
Wisma Tante Dolly di Cemoro Sewu yang dikelolanya sejak zaman kolonial itu, memang cukup tangguh kala itu, meski warga sekitar dan jemaah Masjid Rahmat pernah mengusir Tante Dally.
“Sampai suatu ketika, di wismanya, ada seorang turis India meninggal dan wismanya di-police line. Dengan terpaksa, pemerintahan waktu itu presidennya masih Pak Karno (Soekarno), melokalisir lokalisasi di kawasan Jarak, itu kejadiannya sekitar tahun 60-an (1960),” kata Teguh menceritakan cerita orangtuanya.
Namun, Tante Dolly menolak berkumpul dengan wisma-wisma yang ada di Jarak. Dia justru membuat wisma di tempat terpisah. Dan ternyata, bisnis lendir yang dikelola Tante Dolly ini, terbilang cukup sukses dibanding wisma-wisma yang ada di Jarak.
Maklum, wanita-wanita penghibur yang dimiliki Tante Dolly waktu itu cukup berkelas. Bahkan, paras wajah Tante Dolly mampu menghipnotis para pria hidung belang untuk mencicipi ‘madunya’ surga dunia. Dan karena itulah namanya cukup terkenal waktu itu. Bahkan, hingga saat ini, Tante Dolly menjadi legenda jagat prostitusi di Surabaya.
Sangking suksesnya bisnis Tante Dolly ini, dibuktikan dengan makin menjamurnya wisma di tempatnya itu, hingga akhirnya lokalisasi itu disebut Gang Dolly, yang cukup terkenal se-Asia Tenggara. Nama itu untuk mengenang sang legenda Tante Dolly, setelah kematiannya.
Namun hari ini, kekokohan Gang Dolly akan tinggal sejarah, yang tak akan dilupakan masyarakat Surabaya. Sebab, Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, dengan tegas memutuskan untuk menutup Gang Dolly dan Jarak pada 18 Juni 2014 ini. Deklarasi penutupan dilakukan di Gedung Islamic Center Jalan Dukuh Kupang, Surabaya.

Kamis, 28 Agustus 2014

Kartolo the legend of.....

Kartolo dan Perjalanan di Dunia Seni


Cinta Mati pada Ludruk
Cak Kartolo...Cak Kartolo...
Nama Kartolo atau lebih akrab dipanggil Cak Kartolo sudah tidak asing di dunia seni. Dia sering mendapatkan penghargaan atas dedikasinya melestarikan seni ludruk. Sebagai seorang pribadi, Kartolo adalah sosok yang sederhana dan rendah hati.
Ditemui di kediamannya, kawasan Kupang (26/8/2008), Kartolo terlihat segar. Saat ditanya berapa umurnya, dia bingung menjawab. ''Kalau di KTP tertulis tahun lahir saya 1947,'' katanya. Tetapi, dia sebenarnya lahir pada 1945. ''Maklum, dulu tidak ada aktanya,'' ucap pria berkumis tersebut.
Kartolo lahir di Pasuruan. Saat berumur tiga tahun, dia pindah ke Surabaya karena ayahnya, (alm) Aliman, bekerja di pabrik tenun daerah Juwingan. Tiga tahun kemudian, saat sang ayah meninggal, dia dan ibunya kembali ke kota kelahiran.
Mesem disik rek...Mesem disik rek...
Di Pasuruan itulah, Kartolo mulai mengenal seni. Tepatnya ketika duduk di kelas enam sekolah rakyat. Di sekitar lingkungan tempat tinggalnya, banyak pemain karawitan. Dia pun mulai belajar memainkan alat-alat musik karawitan. "Alat musik yang pertama kali saya pelajari itu gambang," ujarnya.
Dari belajar karawitan, Kartolo mulai mengiringi ludruk dan tayuban. Sebenarnya, darah seni sama sekali tidak mengalir di dalam darahnya. ''Ayah saya kerja di pabrik tenun, ibu saya petani,'' terang dia.
Bermula dari karawitan, Kartolo lantas mulai belajar menguasai kesenian yang lain. Termasuk ludruk. Pada 1960, untuk kali pertama dia manggung bersama kelompoknya. Respons yang didapat memuaskan. Namun, lima tahun kemudian, saat meletus G-30-S/PKI, Kartolo berhenti. "Dulu kan sempat dilarang," tuturnya.
Pada 1967, Kartolo kembali aktif ngludruk dengan bergabung bersama kelompok Sipur Lima Ludruk Dwikora. Pada 1969, dia pindah ke Ludruk Gajah Mada. Begitu seterusnya. Dengan pertimbangan ekonomi, dia berpindah-pindah, mencari grup yang punya jam manggung tinggi.
Kartolo in Action...Kartolo in Action...
Hingga pada 1971, Kartolo bergabung dengan Ludruk RRI. Dia berada di sana hanya tiga tahun. Ketika memutuskan untuk menikah dengan temannya, Kastini, pada 1974, Kartolo memilih keluar dari grup tersebut dan menjadi seniman "freelance".
Perkenalan Kartolo dengan Kastini sendiri terjadi sekitar 1972. Mereka merupakan sesama pemain ludruk. Sering dipasangkan sebagai suami istri, lama-lama tumbuh benih cinta sebenarnya. Setelah pacaran setahun, mereka memutuskan untuk menikah.
Pada 1976-1980, Kartolo kembali bergabung dengan sebuah grup ludruk bernama Persada Malang. Guyonannya yang khas membuat namanya kian melejit. Sampai akhirnya dia mendapatkan tawaran rekaman kaset. Mulailah Kartolo membuat kaset-kaset ludruk. Merasa masih memiliki potensi, Kartolo lantas melebarkan jalur seni menjadi pelawak.
Total, hingga pada 1995, Kartolo sudah memiliki 95 kaset rekaman ludruk. Meski demikian, jangan bayangkan dia sekarang hanya berleha-leha menikmati royalti dari hasil karyanya yang masih sering diperdengarkan di radio-radio itu. "Dulu kalau habis rekaman dapat uang langsung. Nggak ada royalti," jelas anak kedua dari empat bersaudara tersebut.
Kartolo CS...Kartolo CS...
Kartolo sendiri tidak menyangka dirinya bisa eksis di dunia seni hingga saat ini. Sampai sekarang dia masih menerima tawaran manggung. Meski tak seramai dulu, dalam sebulan pasti ada saja orang yang mengundang. Kartolo pun merasa tak perlu mencari pekerjaan lain.
Hidupnya yang lumayan berkecukupan saat ini benar-benar ditopang dari profesi sebagai seniman. "Saya sudah terlalu cinta sama ludruk. Nggak pengen dagang atau melakukan hal lain," tegasnya.
Saat ini, kalau sedang tidak ada jadwal manggung, Kartolo lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain bersama cucu, menonton televisi, atau berolahraga badminton. "Saatnya menikmati hidup," tuturnya lantas tersenyum.

indonesian Hero

TAN MALAKA, Biografi Terbesar Pahlawan Terlupakan dlm Sejarah Indonesia yg Dihargai di Eropa!


Karya Harry Poeze yang judulnya berarti Dihujat dan Dilupakan: Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia 1945-1949 sungguh luar biasa dari segi kuantitas dan kualitas. Terdiri atas tiga jilid setebal 2.194 halaman, buku ini bukan saja menggunakan dokumen Indonesia dan Belanda, tetapi juga arsip Rusia. Ini merupakan biografi terbesar dalam sejarah modern Indonesia.



Dalam lintasan sejarah, Tan Malaka merupakan salah satu tokoh revolusi kiri yang namanya hingga kini masih terus berkibar, paling tidak di Eropa. Sehingga tak heran jika Harry Poeze, peneliti senior sekaligus Direktur KITLV Belanda, menulis disertasi mengenai Tan Malaka pada tahun 1976 yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia dalam dua jilid. Poeze kemudian melanjutkan buku kisah perjalanan hidup Tan Malaka ini sampai akhir hayatnya pada 1949, yang dalam buku tersebut diungkap mengenai lokasi tewasnya Tan Malaka di Jawa Timur dan siapa yang menembaknya.

Penelusuran Poeze ternyata tidak hanya berhenti disitu, pada 8 Juni 2007 lalu, di Universitas Leide Belanda, Poeze meluncurkan buku yang berjudul ‘Verguisd en Vergeten, Tan Malaka; De linkse Beweging en Indonesische Revolutien 1945-1959’. Buku setebal 2194 halaman ini di jual seharga 99,90 euro di Eropa, dan cukup mendapat apresiasi dari halayak pembaca.[/SIZE]



Pejuang antikolonialisme

Sutan Ibrahim Gelar Datuk Tan Malaka lahir di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, tahun 1896. Ia menempuh pendidikan Kweekschool di Bukittinggi sebelum melanjutkan pendidikan ke Belanda. Pulang ke Indonesia tahun 1919 ia bekerja di perkebunan Tanjung Morawa, Deli.

Penindasan terhadap buruh menyebabkan ia berhenti dan pindah ke Jawa tahun 1921. Ia mendirikan sekolah di Semarang dan kemudian di Bandung. Aktivitasnya menyebabkan ia diasingkan ke negeri Belanda. Ia malah pergi ke Moskwa dan bergerak sebagai agen komunis internasional (Komintern) untuk wilayah Asia Timur. Namun, ia berselisih paham karena tidak setuju dengan sikap Komintern yang menentang pan-Islamisme.

Ia berjuang menentang kolonialisme "tanpa henti selama 30 tahun" dari Pandan Gadang (Suliki), Bukittinggi, Batavia, Semarang, Yogya, Bandung, Kediri, Surabaya, sampai Amsterdam, Berlin, Moskwa, Amoy, Shanghai, Kanton, Manila, Saigon, Bangkok, Hongkong, Singapura, Rangon, dan Penang. Ia sesungguhnya pejuang Asia sekaliber Jose Rizal (Filipina) dan Ho Chi Minh ( Vietnam).

Ia tidak setuju dengan rencana pemberontakan PKI yang kemudian meletus tahun 1926/1927 sebagaimana ditulisnya dalam buku Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia, Kanton, April 1925 dan dicetak ulang di Tokyo, Desember 1925). Perpecahan dengan Komintern mendorong Tan Malaka mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) di Bangkok, Juni 1927.

Walaupun bukan partai massa, organisasi ini dapat bertahan sepuluh tahun; pada saat yang sama partai-partai nasionalis di Tanah Air lahir dan mati.

Perjuangan Tan Malaka yang bersifat lintas bangsa dan lintas benua telah diuraikan secara rinci dalam dua jilid biografi yang ditulis Poeze. Setelah Indonesia merdeka, perjuangan Tan Malaka mengalami pasang naik dan pasang surut. Ia memperoleh testamen dari Bung Karno untuk menggantikan apabila yang bersangkutan tidak dapat menjalankan tugasnya.

Namun, tahun 1948, Tan Malaka dikenal sebagai penentang diplomasi dengan Belanda yang dilakukan dalam posisi merugikan Indonesia. Ia memimpin Persatuan Perjuangan yang menghimpun 141 partai/organisasi masyarakat dan laskar, menuntut agar perundingan baru dilakukan jika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia seratus persen.

Tahun 1949 Tan Malaka ditembak. Tanggal 28 Maret 1963 Presiden Soekarno mengangkat Tan Malaka sebagai pahlawan nasional. Namun, sejak era Orde Baru, namanya dihapus dalam pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah walau gelar pahlawan nasional itu tidak pernah dicabut. Adalah kebodohan rezim Orde Baru menganggap Tan Malaka sebagai tokoh partai yang dituduh terlibat pemberontakan beberapa kali. Tan Malaka justru menolak pemberontakan PKI tahun 1926/1927. Ia sama sekali tidak terlibat dalam peristiwa Madiun 1948. Bahkan, partai yang didirikan tanggal 7 November 1948, Murba, dalam berbagai peristiwa berseberangan dengan PKI.

Harry Poeze telah menemukan lokasi tewasnya Tan Malaka di Jawa Timur berdasarkan serangkaian wawancara yang dilakukan pada periode 1986 sampai dengan 2005 dengan para pelaku sejarah yang berada bersama-sama dengan Tan Malaka tahun 1949. Dengan dukungan dari keluarga dan lembaga pendukung Tan Malaka, sedang dijajaki kerja sama dengan Departemen Sosial Republik Indonesia untuk memindahkan kuburannya ke Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Tentu untuk ini perlu tes DNA, misalnya. Tetapi, Depsos dan Pemerintah Provinsi Jatim harus segera melakukannya sebelum masyarakat setempat secara sporadis menggali dan mungkin menemukan tulang belulang kambing yang bisa diklaim sebagai kerangka jenazah sang pahlawan nasional.

Temuan baru

Banyak penemuan baru yang terdapat dalam buku Tan Malaka yang terakhir ini. Sejarah revolusi Indonesia tahun 1945-1949 seperti diguncang untuk ditinjau ulang. Peristiwa Madiun 1948 dibahas sebanyak 300 halaman. Poeze menggunakan arsip Komintern yang terdapat di Moskwa.

Ia juga menemukan arsip menarik tentang Soeharto. Selama ini sudah diketahui bahwa Soeharto datang ke Madiun sebelum meletus pemberontakan. Soemarsono berpesan kepadanya bahwa kota itu aman dan agar pesan itu disampaikan kepada pemerintah. Poeze menemukan sebuah arsip menarik di Arsip Nasional RI bahwa Soeharto pernah menulis kepada "Paduka Tuan" Kolonel Djokosoejono, komandan tentara kiri, agar beliau datang ke Yogya dan menyelesaikan persoalan ini. Soeharto menulis "saya menjamin keselamatan Pak Djoko". Dokumen ini menarik karena ternyata Soeharto mengambil inisiatif sendiri sebagai penengah dalam peristiwa Madiun.

Dalam kondisi ini, Tan Malaka mungkin lebih cocok disebut sebagai pahlawan yang terlupakan. Mengapa demikian, karena Ia berpuluh-puluh tahun telah berjuang bersama rakyat, namun kemudian dibunuh dan dikuburkan disamping markas militer di sebuah desa di Kediri pada 1949, tanpa banyak yang tahu. Padahal ia lebih dari tiga dekade merealisasikan gagasannya dalam kancah perjuangan Indonesia. Ini dapat dilihat dari ketika Tan Malaka pertama kali menginjakkan kaki di tanah Jawa, yakni dengan mendirikan Sekolah Rakyat di Semarang. Padahal Tan Malaka ketika sedang dalam pengejaran Intelijen Belanda, Inggris dan Amerika.

Menurutnya, pendidikan rakyat jelas merupakan cara terbaik membebaskan rakyat dari kebodohan dan keterbelakangan untuk membebaskan diri dari kolonialisme. Tan Malaka dan gagasannya tidak hanya menjadi penggerak rakyat Indonesia, tetapi juga membuka mata rakyat Philipina dan semenanjung Malaya atau bahkan dunia.



Harry Poeze telah menemukan lokasi tewasnya Tan Malaka di Jawa Timur. Lokasi tempat Tan Malaka disergap dan kemudian ditembak adalah Dusun Tunggul, Desa Selopanggung, di kaki Gunung Wilis. Penembakan itu dilakukan oleh Suradi Tekebek atas perintah Letnan Dua Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya. Pada masa selanjutnya, Soekotjo pernah menjadi Wali Kota Surabaya dan terakhir berpangkat brigjen, meninggal tahun 1980-an.

Dalam penelitiannya Poeze juga memanfaatkan foto-foto sejarah. Rapat raksasa di lapangan Ikada (sekarang lapangan Monas) Jakarta, 19 September 1945, yang dihadiri 15.000 orang dari seputar Jakarta merupakan momen historis penting. Walau Indonesia sudah merdeka, peralihan kekuasaan belum terlaksana. Tentara Jepang masih memegang senjata dan mengancam jika rakyat mengadakan rapat lebih dari lima orang. Rapat raksasa di lapangan Ikada itu dirancang pemuda untuk memperlihatkan dukungan rakyat kepada proklamasi. Soekarno ragu untuk menghadiri rapat tersebut karena khawatir tentara Jepang melakukan penembakan massal terhadap penduduk. Rapat itu akhirnya berlangsung dan Soekarno berpidato beberapa menit.



Poeze sempat memeriksa foto-foto tentang peristiwa itu. Ia menemukan seseorang yang memakai helm di dekat Bung Karno ketika berpidato. Bahkan, pada salah satu foto, Soekarno dan orang itu berjalan berdampingan. Setelah membandingkan berbagai foto itu, berkesimpulan bahwa lelaki berhelm itu adalah Tan Malaka. Lelaki itu lebih pendek dari Soekarno dan ukurannya di foto ternyata cocok karena tinggi Soekarno adalah 1,72 meter dan Tan Malaka 1,65 meter.

Rabu, 27 Agustus 2014

senandung risau

    
          g                         em
.....oh bintang yang terang....
 
       am                  d
.......terangilah cintaku.......

          g                        em
.......oh bulan yang indah........

         am                    d
.......sinarilah rinduku...........


#  choruss:

         bm                                 em
.......banyak busur panah yang ku'lepas.........

          am                                   d
......tak satu'pun tercancap dihati'mu............

               bm                                      em
.............mengapa hawa tercipta di dunia...........

             am                                   d      
..........bila adam lama menunggu..........


#  reff:
          g                   em                  am                    d
.......cintaku,,......rinduku......kasihku.....tak bersambut.....(3X)

          g                                em
......ohhh....mawar yang wangi.......

           am                                d
......sudi'kah kau kuhirup harum'mu.......

          g                        em
.......hey,.......gadis jelita.........

         am                                    d
......tahu'kah kau....kumencintai'mu.......


 # back to chorrus

# back to reff

Senin, 25 Agustus 2014

romantisme

           siji,loro,telu.......asu gantet,,,,,asu gantet....asu gantet.... sambil menggigit salah satu potongan kayu sapu yang pendek kemudian yang panjang dipegang membelakangi tubuh lawan kami diarak ke penujru kampung yang sebelumnya sudah disepakati bersama jarak tempuh untuk medapatkan hukuman "Asu gantet"(ada dua bentuk dua potongan  yang panjang berukuran 30cm yang kecil berukuran 10cm) "Asu gantet" adalah bentuk hukuman kepada lawan kami yang kalah,ketika kami bermain permainan tradisional "pathil lele".
         
           Pathil lele dapat dimainkan secara tim maupun individu.Pathil lele hampir sama dengan permainan olah raga Kasti.bedanya jika kasti yang dipukul adalah bola,maka "Pathil lele" memukul sejauh mungkin potongan kayu yang pendek (10cm) sejauh mungkin.masing-masing tangkapan yg berhasil menangkap potongan kayu tersebut mendapatkan poin berbeda-beda.jika berhasil menangkap dengan tangan kiri,maka mendapatkan poin 15,20,25 dan bila menangkap dengan tangan kanan, maka akan mendapatkan poin 10,15,20 dan bila menangkap dengan kedua tangan maka akan mendapatkan poin 5,10,15.

          Didalam permainan Pathil lele ada 3 babak. babak pertama potongan kayu pendek ditaruh diatas kubangan tanah,kemudian dicukit sekuat mungkin agar bisa terbang sejauh mungkin.apabila kayu kecil tidak berhasil ditangkap,maka tim lawan (seluruh personil lawan dapat menjaga dimana terdapat batas minimal yang ditandai garis didepan kubangan tanah) berkesempatan untuk mengambil alih permainan dengan melempar kayu pendek tersebut untuk mengenai tepat kayu panjang yang diletak'kan diatas kubangan tanah.

         Pada babak kedua potongan kayu panjang dan pendek dipegang disalah satu tangan kemudian di'ayunkan sembari melakukan jugling dengan kayu panjang dipukulkan ke kayu kecil kemudian diakhiri dengan pukulan sejauh mungkin.apabila lawan dapat menangkap potongan kayu tersebut,maka lawan akan mendapatkan poin seperti yang saya sebutkan diatas.dan bila lawan tidak berhasil menangkap potongan kayu maka terjadi penghitungan  (penghitungan dinilai berdasarkan jugling yang dilakukan.bila jugling hanya 1X maka penghitungan dilakukan dengan kayu potongan panjang dimulai dari kayu kecil tersebut jatuh sampai diakhiri di dalam kubangan tanah.apabila jugling dilakukan 2X maka penghitungan dapat dilakukan dengan menggunakan potongan kayu kecil.apabila jugling dilakukan lebih dari 2X maka penghitungan dilakukan dengan potongan kayu kecil kemudian hitungan dilipat gandakan.)
      
         Pada babak ketiga potongan kayu kecil diletakkan diatas kubangan tanah kemudian dipukul dan dilakukan jugling.(penghitungan sama seperti aturan dibabak kedua) pada umumnya permainan tradisional ini diakhiri dengan kesepakatan kedua tim.biasanya tim mana yang memperoleh poin 300 dulu, maka tim tersebut menjadi pemenangnya.

Dengan semakin majunya perkembangan jaman,maka permainan Pathil lele pun menjadi punah.bahkan didesa-desa pun sudah tidak ada permainan ini.kalaupun ada itupun terdapat didesa-desa terpencil.mudah-mudahan dengan romantisme tulisan ini,segala permainan tradisional di indonesia dapat muncul kembali  dan kembali dimainkan oleh anak-anak Indonesia.



Salam Pathil lele,
  

   

Minggu, 24 Agustus 2014

Surabaya Punya Cerita: MENELUSURI MAKAM KEMBANG KUNING

Surabaya Punya Cerita: MENELUSURI MAKAM KEMBANG KUNING: Apa yang ada di pikiran kita saat mendengar kata batu nisan di makam? Kesan seram, takut, dan bayangan hantu pasti menyelimuti otak keci...

risallah umat

                 " berikan senyuman....,sudahlah,biar terjadi.....tenangkan jiwa kita....pastikan akan baik-baik saja...itu sudah kehendak illahi....jika sudah dikendaki....mutlak sudah..... tak ada yang bisa merubah...dan tak'kan bisa berubah....."

                  " bila matahari selalu bersinar dan slalu menyinari bumi.....,aku yakin begitupun dengan engkau,dapat selalu menyinari hati dan denyut tubuh ini.katakan kalau kau cinta aku....demi tuhan...bersumpah'lah....katakan kau sayang aku....demi tuhan bersumpahlah...

               " berikan senyuman....,sudahlah,biar terjadi.....tenangkan jiwa kita....pastikan akan baik-baik saja...itu sudah kehendak illahi....jika sudah dikendaki....mutlak sudah..... tak ada yang bisa merubah...dan tak'kan bisa berubah....."
 
               "gaya'mu bak seorang ratu....tak mudah dipeluk...tak mudah dicium...parasmu cantik bak bidadari menebarkan wangi surga..... halus tutur kata'mu.....selayaknya wanita bicara...aku akui aku cinta...aku akui aku tergila-gila...karna kau anggun...karna kau anggun.....
                    
               " berikan senyuman....,sudahlah,biar terjadi.....tenangkan jiwa kita....pastikan akan baik-baik saja...itu sudah kehendak illahi....jika sudah dikendaki....mutlak sudah..... tak ada yang bisa merubah...dan tak'kan bisa berubah....."
            
               " hai pagi...katakan aku menunggu'nya slalu....hai siang dadaku slalu bergetar mendengar tuturnya,mencium wanginya.....duhai malam aku terbang melayang jauh ketika dia setuju menjadi sangkar maduku......selamanya dan selamanya...
             
              " berikan senyuman....,sudahlah,biar terjadi.....tenangkan jiwa kita....pastikan akan baik-baik saja...itu sudah kehendak illahi....jika sudah dikendaki....mutlak sudah..... tak ada yang bisa merubah...dan tak'kan bisa berubah....."   

              " cintaku,cintamu juga......sayangku,sayangmu juga....rinduku,rindumu juga....selaraskan semuanya...padukan semuanya....hidup ini indah...hidup ini mempesona... hidup ini berwarna....bila kau slalu dan slalu disiku...dihidupku...."

               " berikan senyuman....,sudahlah,biar terjadi.....tenangkan jiwa kita....pastikan akan baik-baik saja...itu sudah kehendak illahi....jika sudah dikendaki....mutlak sudah..... tak ada yang bisa merubah...dan tak'kan bisa berubah....."

              " bila apa yg kau tahu tentang aku salah.....bila apa yang kau tahu tentang aku bohong.......yakinkan,aku adalah milikmu....yakinkan kamu milik'ku.......aku cinta kekuranganmu...aku cinta kelebihanmu....aku cinta kesalahanmu...aku cinta kebenaranmu...."

             " berikan senyuman....,sudahlah,biar terjadi.....tenangkan jiwa kita....pastikan akan baik-baik saja...itu sudah kehendak illahi....jika sudah dikendaki....mutlak sudah..... tak ada yang bisa merubah...dan tak'kan bisa berubah....."
       
            " demi nafas terakhir...yakinlah kita akan bertemu.....demi nafas terakhir....pastikan kita slalu bersama.....demi nafas terakhir....aku ada untukmu.....demi nafas terakhir...engkau ada untuk'ku.....hingga hembusan nafas terakhirku dan terakhirmu...."
           
             " berikan senyuman....,sudahlah,biar terjadi.....tenangkan jiwa kita....pastikan akan baik-baik saja...itu sudah kehendak illahi....jika sudah dikendaki....mutlak sudah..... tak ada yang bisa merubah...dan tak'kan bisa berubah....."



.