Minggu, 19 Oktober 2014

 Selamat Sore dunia.............!!!!!!!!!!






- Suatu hari di praktikum kedokteran.

Dosen : "Hari ini kita belajar mengenai tubuh sesungguhnya, untuk itu kita akan mempelajari mayat!"

Lalu didatangkanlah sebuah mayat..

Dosen : "Pelajaran pertama, tidak boleh jijik!"

Lalu sang dosen memasukkan jarinya ke anus mayat tersebut, dan kemudian menjilat jarinya.

Dosen : "Nah, kalian lakukan seperti yang saya lakukan tadi!"

Walaupun banyak yang teriak-teriak dan muntah-muntah karena tidak tahan, toh akhirnya semua mahasiswa melakukan itu satu persatu.

Dosen : "Nah sekarang pelajaran kedua, ketelitian. Perhatikan, tadi yang saya masukkan adalah jari tengah, sedangkan yang saya jilat adalah jari kelingking!!!"

Senin, 13 Oktober 2014

Selamat Sore Dunia......!!!!!!!!







Suatu hari seorang pria yang terkenal sangat pendiam dan tidak banyak bicara kedatangan seorang sales girl yang akan mempromosikan alat-alat kecantikan. Si Sales itu ingin bertemu dengan istri si pria pendiam tersebut. Pria itu pun berkata bahwa istrinya tidak ada di rumah.

"Oh, tidak apa-apa kok, Pak," kata si sales tersebut, "Boleh tidak kalau saya menunggu istri anda di sini?"

Pria itu mempersilahkan sales tersebut untuk menunggu di ruang tamu, setelah itu pria tersebut meninggalkan si sales sampai tiga jam lebih.

Karena terlalu lama, si sales pun akhirnya merasa gelisah dan memanggil si pria pemilik rumah, "Boleh saya tahu ke mana kira-kira istri Bapak pergi?"

"Dia pergi ke kuburan," jawab si pria.

"Kapan dia kembali?"

"Aku sama sekali tidak tahu," kata si pria. "Dia sudah berada di sana selama 11 tahun."

Kamis, 09 Oktober 2014

selamat sore dunia...........!!!!!!!!!!!!





Adi pulang pagi dari kerjanya dan mendengar bunyi aneh dari kamarnya. Ia lari keatas dan menemukan istrinya telanjang di kasur, berkeringat dan terengah-engah. "Ada apa?" tanya Adi. "Aku terkena serangan jantung," teriak istrinya.

Ia lari kebawah untuk menelepon, persis ketika ia mulai memencet nomor, anaknya yang berumur 4 tahun datang dan berkata, "Papa! Papa! Paman Doni bersembunyi di lemari dan dia nggak pake baju."

Adi membanting telepon dan berlari keatas melewati isrinya yang berteriak-teriak, dan membuka pintu lemari. Dan disana memang benar, saudaranya bersembunyi, telanjang bulat dan ketakutan disudut lemari. "Tak berperasaan," teriak Adi. "Istriku kena serangan jantung dan kamu malah lari telanjang nakutin anak kecil!


Selasa, 16 September 2014

yellow flower stories..

Selamat siang Dunia,

Saya bingung mau menulis apa sekarang.sejak dulu saya paling susah untuk melakukan hal menulis.waktu sekolah saja,saya hampir tidak pernah mencatat materi pelajaran yang di berikan oleh guru saya.hal itu berlanjut sampai saya kuliah.dan itupun sudah berlangsung lama,8 tahun yang lalu ! bayangkan 8 tahun yang lalu saja,saya malas untuk  menulis apalagi sekarang ! karena setiap hari saya dipaksa oleh bos saya Joris Lato ( saya terpaksa menulis,daripada saya di pecat..hehehehehehe...) untuk menulis,akhirnya saya mencoba untuk menulis di blogger ini.harapan saya semoga tulisan saya ini bermanfaat.minimal buat saya pribadi hehehehehehehehehe..........


Surabaya,19 agustus 2014 jam 8 malam saya bersama teman kerja saya Rasty.Rasty adalah perempuan yang saat ini sudah berumur 19 tahun.(bagi saya Rasty adalah rekan kerja yang menyenangkan walaupun  lebih banyak membuat saya jengkel kalau boleh jujur...hahahahaha...walaupun masih berusia 19 tahun tapi kepedulian dia terhadap sesama tidak diragukan lagi.dan saat ini Rasty bercita-cita ingin mempunyai Koperasi ) kami memasuki kawasan makam Kristen Kembang Kuning,karena disana kami mempunyai banyak teman. baik itu perempuan,laki-laki maupun Waria (transeksual).kami memanggil perempuan perempuan tersebut dengan kata "mbak".seperti biasa kami dengan mbak-mbak diskusi mengenai kesehatan reproduksi.

rumah gubuk mbak Marni dan suami di area makam kembang kuning
mbak-mbak disana sebagian besar bekerja sebagai "kupu-kupu malam".mulai dari usia 22 tahun sampai usia 68tahun.ketika kami bertemu dengan mbak yang usia-nya 67 dan 68 tahun.kami kaget sekali  menjumpai mbak yang berusia 68tahun. Rasty pun meneteskan airmata,karena melihat nasib mbak itu.Marni nama mbak itu.mbak Marni saat ini tinggal dengan suami-nya yang usia-nya 71 tahun di gubuk yang berada di area makam kembang kuning.suami mbak Marni sehari-hari bekerja sebagai tukang becak dan mbak Marni ber-kerja sebagai penjaga parkir sepeda motor dan berjualan air di dalam botol air mineral bekas untuk membersihkan organ intim ketika selesai making love bagi mbak kupu-kupu malam lain-nya dikawasan makam kembang kuning.sudah 3 tahun ini mbak Marni berhenti"melayani" para hidung belang.karena kesehatan-nya semakin melemah.itu yang membuat kami miris.dengan usia 68 tahun mbak Marni masih ber-kerja di area pemakaman pada malam hari.mbak Marni ber-cerita kalau setiap hari dia mendapatkan uang antara 5 ribu-15 ribu rupiah..."ya lumayan mas,untuk menyambung hidup..." kata mbak Marni mengenai pendapatan-nya tersebut.sedangkan  suami mbak Marni berpenghasilan tidak pasti.sudah 5 hari ini suami mbak Marni tidak memperoleh uang dengan becak-nya.mbak Marni menceritakan bahwa selama ini dia ikhlas menjalani hidup seperti ini.mbak Marni sendiri merupakan penduduk urban.mbak Marni sebenarnya adalah asli orang kota pasuruan.semenjak usia 19 tahun mbak Marni sudah mengadu nasib di kota Surabaya.sebelum dengan suami yang ini,mbak Marni pernah menikah.akan tetapi tidak dikarunia anak. akan tetapi perkawinan mereka hanya bertahan selama 3 tahun,karena suami pertama-nya pergi dengan wanita lain.mau tidak mau mbak Marni harus bertahan hidup seorang diri di kota surabaya.hanya berbekal pengetahuan minim,mbak Marni akhirnya menjalani profesi sebagai "kupu-kupu malam" di usia nya yang 24 tahun.tiba-tiba pembicaraan kami berhenti karena mbak Marni merasa kepala-nya pusing dan banyak mengeluarkan keringat.kemudian kami ijin pulang kepada mbak Marni dan tidak lupa Rasty memberika uang yang tidak banyak untuk membeli obat,karena mbak Marni mengidap penyakit hipertensi tinggi.

Surabaya,11 sepetember 2014,handpone saya berdering,ada panggilan masuk dari salah satu mbak yang ada di kembang kuning,memberi khabar kalau mbak Marni meninggal Dunia karena sesak nafas.kami hanya bisa tertegun mendengar berita tersebut.belum sempat kami mengobrol banyak dengan mbak Marni.tiba-tiba mendapat khabar kalau mbak Marni meninggal dunia.Selamat Jalan mbak Marni dalam hati kecil kami berdoa,semoga mbak Marni meninggal dengan kehormatan,martabat dan harga diri yang tinggi selayak-nya Tuhan menciptakan Manusia.

bersambung...(yellow flower stories jilid II )



Jumat, 05 September 2014

Hitam Putih jilid II



Aku lukis Dunia dengan hitam dan putih......

melangkah lurus.......
dipandang sebelah mata......
melangkah limbung.....
di abaikan pandangan mata.....
melangkah berliku.......
lebar terang mata terbuka......
sekedar harapan untuk menjadi terang.....
terang  gelap bergumul dan melebur......
pada akhirnya.......

Aku lukis Dunia dengan hitam dan putih.......

aku bukan kanan......
aku juga bukan kiri.....
aku bukan merah....
aku juga bukan biru.....
aku bukan timur....
aku juga bukan barat....
aku manusia yang ingin menjadi manusia....
manusia yang sudah di takdirkan oleh Raja segala Raja manusia.....

Aku lukis Dunia dengan hitam dan putih.......

nafas ini adalah milik Mu....
darah ini milik adalah Mu....
segala denyut ini adalah milik Mu....
langkah ini adalah milik Mu....
tangan ini adalah milik Mu.....
aku ingin terlukis putih....
awal dari nafas ini.....
mejadi terlukis putih dan hitam....
akhir dari nafas ini....

Aku lukis Dunia dengan hitam dan putih......

 

Jumat, 29 Agustus 2014

Robin Hood from..

Kusni Kasdut, Pejuang yang Terbuang

Revolusi meruntuhkan sistem nilai lama dan menyusun sistem nilai baru. Sedikit orang merenung dan mempertanyakan segala sesuatu dalam revolusi itu. Kebanyakan bertindak, larut tanpa bentuk di dalamnya dan mencari identitas yang terus terlepas. Kalaupun ada, salah satu pencari itu bernama Kusni Kasdut.

Semasa revolusi, Kusni ditugaskan melakukan hal-hal yang waktu itu dianggap perbuatan kepahlawanan. Akan tetapi selewat revolusi, perbuatan itu dinilai sebagai tindak pidana. Cerita demikian memang bisa didengar di mana pun, setelah revolusi selesai. Memang revolusi merupakan penjungkir-balikan segala nilai.


Kusni Kasdut yang bernama asli Waluyo, adalah seorang anak yatim dari keluarga petani miskin di Blitar. Terlahir dengan kemiskinan yang terus menghantuinya, tanpa revolusi, mustahil dapat beristrikan seorang gadis indo dari keluarga menengah, sekali pun telah diindonesiakan sebagai Sri Sumarah Rahayu Edhiningsih. Istri yang ia cintai, ia kagumi, bahkan ia puja itu melahirkan tekad untuk memperbaiki kehidupannya.

Ia mencoba mencari pekerjaan yang sepadan dengan martabatnya yang baru, dan kegagalan demi kegagalan ia dapat. Untuk kesekian kalinya,--berbekal pengalaman semasa revolusi ‘45--ia berusaha masuk anggota TNI, tetapi ditolak. Penolakan ini disebabkan sebelumnya ia tak resmi terdaftar dalam kesatuan. Selain itu, pada kaki kirinya terdapat bekas tembakan yang ia dapat semasa perang fisik melawan Belanda. Akibatnya, cacat secara fisik.

Kegagalan-kegagalan tersebut membentuknya ia seolah diperlakukan tidak adil oleh penguasa waktu itu, seperti ‘habis manis sepah dibuang’. Hal tersebut menimbulkan obsesi untuk merebut keadilan dengan sepucuk pistol, membenarkan diri memperoleh rejeki yang tak halal. Terlebih lagi membiarkan anak dan istrinya terlantar. Bersama teman senasip dan seperjuangan yang tak ada harapan untuk menyambung hidup, Kusni pun akhirnya merampok.

Demikian kegagalan sosial ekonomi dan keterdamparan psikologi telah mengantar individu memasuki dunia hitam. Kusni tak sendiri. Masih banyak Kusni-kusni lain, seorang di antaranya adalah Bir Ali. Anak Cikini kecil (sekarang belakang Hotel Sofyan), mantan suami penyanyi Ellya Khadam. Bernama lengkap Muhammad Ali dan dijuluki Bir Ali--karena kesukaannya menenggak bir sebelum melakukan aksi-- menjalani hukuman mati pada 16 Februari 1980. Bir Ali-lah yang membunuh Ali Badjened (seorang Arab kaya raya ketika rumahnya di rampok).
“Ada satu kesamaan antara Kusni Kasdut, Mat Pelor, dan Mat Peci. Mereka dulunya adalah para pejuang '45, memilih jalan pintas untuk menyambung hidup. Mereka kecewa atas penguasa jaman itu karena kurang diperhatikan masa depannya.”

Pada mulanya, Kusni, dengan segala keramahan Usman, Mulyadi dan Abu Bakar mengundangnya masuk, bahkan memberikan posisi memimpin kepadanya. Kebetulan, ia memang dilahirkan dengan garis (instink) memimpin. Dan seperti buah terlarang, hal itu memang manis dan membuat ketagihan. Seperti seorang morfinis, Kusni tak dapat berhenti. Bahkan jeweran kuping dari seorang yang dikasihi dan dihormatinya, Subagio, tak mempan. Pengalaman tertangkap Belanda semasa revolusi, membuatnya memandang penjara sebagai lembaga tempat penyiksaan yang sah. Hanya untuk menghindari penangkapan, ia rela membunuh korbannya (itupun bila dianggap terlalu terpaksa).

Berbekal sepucuk pistol, tahun 1960-an, Kusdi bersama Bir Ali merampok dan membunuh seorang Arab kaya raya bernama Ali Badjened. Ali Badjened dirampok sore hari ketika baru saja keluar dari kediamannya di kawasan Awab Alhajiri, Kebon Sirih. Dia meninggal saat itu juga akibat peluru yang ditembakkan dari jeep. Peristiwa ini sangat menggemparkan ketika itu, karena masalah perampokan disertai pembunuhan belum banyak terjadi seperti sekarang ini.

Berselang satu tahun, tepatnya tanggal tgl 31 Mei 1961, Ibukota dibuat geger. Dimana terjadi perampokan di Museum Nasional Jakarta (Gedung Gajah). Bak sebuah film, Kusni yang menggunakan jeep dan mengenakan seragam ala polisi, menyandera pengunjung dan menembak mati seorang petugas museum. Dalam aksi ini, ia berhasil membawa lari 11 permata koleksi museum tersebut. Kusni Kasdut menjadi buronan terkenal.

Sekian tahun menjadi buronan, Kusni Kasdut tertangkap ketika mencoba menggadaikan permata hasil rampokannya di Semarang. Petugas pegadaian curiga karena ukurannya yang tidak lazim. Akhirnya ia ditangkap, dijebloskan ke penjara dan dihukum mati atas rangkaian tindak kejahatannya.


Pada masanya, Kusni adalah penjahat spesialis barang antik. Kisahnya sebagai sosok penjahat berdarah dingin ternyata tidak hanya dikenang oleh para korban atau keluarga korban. Ia juga sempat dijuluki Robin Hood Indonesia, karena ternyata hasil rampokannya sering di bagi-bagikan kepada kaum miskin. Bahkan sekitar tahun 1979, sebuah media memuat cerita bersambung berjudul “Kusni Kasdut”. Cerita yang mengkisahkan tentang sepak terjang penjahat kakap bernama Kusni Kasdut, yang dalam salah satu aksinya menggegerkan Museum Nasional Jakarta. Juga sempat dijadikan ide untuk lagunya God Bless dengan judul “Selamat Pagi Indonesia” di album Cermin. Lirik lagu ini ditulis oleh Theodore KS, wartawan musik Kompas.


Masa Tahanan
Dalam keterasingannya di penjara, yang jauh dari orang-orang dicintai, Kusni bertobat dan menyesali kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya. Ini terjadi ketika dalam penjara, ia berkenalan dengan seorang pemuka agama Katolik. Ia pun memutuskan menjadi pengikut setianya dan dibaptis sebagai pemeluk Katolik dengan nama Ignatius Kusni Kasdut.

Rasa cinta terhadap agama yang dianutnya ia coba tuangkan dengan sebuah karya lukisan dari gedebog (pohon pisang). Dalam lukisan tersebut,--yang sampai sekarang masih tersimpan rapi di Museum Gereja Katederal Jakarta--tergambar dengan rinci Gereja Katedral lengkap dengan menara dan arsitektur bangunannya yang unik.


Seperti yang dituturkan oleh Eduardus Suwito (pengurus Museum Katedral), “sebagai tanda terima kasihnya, Kusni Kasdut memberikan lukisannya itu kepada Gereja Katedral Jakarta. Dan beberapa hari setelah itu, Kusni Kasdut ditembak mati.”

Selain lukisan, Eduardus Suwito juga sempat memperoleh surat dari almarhum Kusni Kasdut. Dalam surat tersebut tertulis keinginannya untuk dapat bertemu dengan keluarganya sebelum eksekusi dijalankan. Surat tersebut juga menuliskan tentang pertobatan Kusni dan pengakuannya akan hal tersebut kepada pihak keluarga.

Sebelum dieksekusi mati, keinginan tersebut terpenuhi. Sembilan jam di ruang kebaktian Katolik LP Kalisosok, Kusni dikelilingi oleh keluarganya: Sunarti (istri keduanya), Ninik dan Bambang (anak dari istri pertama), Edi (menantu, suami Ninik) dan dua cucunya, anak Ninik. Itulah jamuan terakhir Kusni dengan capcai, mie dan ayam goreng.

Seperti dikisahkan oleh seorang pendengarnya. Kusni yang memeluk Ninik berkata, “Saya sebenarnya sudah tobat total sejak 1976. Situasilah yang membuat ayah jadi begini. Sebenarnya ayah ingin menghabiskan umur untuk mengabdi kepada Tuhan. Tapi waktu terlalu pendek.” Ninik dan yang lain menangis. “Diamlah,” lanjutnya, “Ninik kan sudah tahu ayah sudah pasrah. Ayah yakin, Tuhan sudah menyediakan tempat bagi ayah. Maafkanlah ayah.”

Begitulah keadaan, dimana Dewi Justitia (Dewi Keadilan) yang menggiurkan itu sekali-sekali perlu minta sesajen. Kusni Kasdut dituntut sebagai sesajen oleh sang dewi, hukuman seumur hidup terlalu ringan bagi seorang napi sekaliber Kusni. Apakah setelah Kusni ditembak, masyarakat menjadi lebih baik dan lebih aman, itu soal lain.
“Manusia tidak berhak mencabut nyawa orang, dan nafsu tidak bisa dibendung dengan ancaman,” (Sudarto, penasehat hukum Kusni Kasdut)

Memang, Kusni Kasdut bukanlah seorang pembunuh pathologik seperti Eddie Sampak dari Cianjur. Ia tak pernah terperosok ke dalam homoseksulitas seperti Henky Tupanwael. Di relung hatinya yang terdalam masih tersisa seberkas cahaya. Itu bisa dilihat dari usahanya menyelamatkan dua orang plonco dunia kejahatan, Roi dan Yoji, dari kehancuran total. Juga, kelakuannya sebagai napi cukup baik. Ia tak pernah berkelahi dengan sesama napi, dan kalau tak terpaksa tak pernah melawan petugas.

Kusni Kasdut yang sempat dijuluki Robin Hood Indonesia, juga dikenal sebagai si Kancil. Selain gesit dan banyak akal, kemampuan lain yang pernah miliki adalah ia mampu melarikan diri dari penjara mana pun. Kisahnya ini tercatat sebanyak tujuh kali Kusni meloloskan diri dari penjara. Sementara, Jack Masrene, salah seorang penjahat legendaris Perancis, tercatat berhasil kabur dari penjara sebanyak lima kali. Kusni Kasdut mengakhiri hidupnya di depan regu tembak, Jack Masrene mati diberondong di jalanan ketika hendak menyalakan mobilnya yang tengah parkir.

Begitulah akhir dari riwayat perjalanan Kusni Kasdut, yang pada masa perjuangan, ia seorang pemuda yang simpatik, ramah, juga sangat pendiam. Seorang mantan pejuang revolusi yang baik, betapa pun catatan kejahatannya, almarhum Kusni lebih terhormat ketimbang tuan-tuan quisling yang kini menikmati buah manis. Memang sejarah penuh ironi, dimana revolusi memakan anaknya. Dengan tegar, Ia menjalani hukuman mati di depan regu tembak pada 16 Februari 1980.



Puisi Kusni Kasdut

haru – biru

kehidupan adalah perlawanan tanpa penyesalan

kesalahan hanyalah lawan kata kebenaran

selanjutnya engkau pasti tahu

tahun 1976 ku bertobat

semua yang ada tak selalu terlihat

jarak antar saat begitu dekat

situasilah yang memaksa dan membuat kuberlari

rindukan terang

pada pekat malam kuterjang

serpihan paku, kaca dan kawat berduri

bulan tak peduli, turuti kata hati

hati menderu-deru, belenggu memburu

beradu cepat dengan peluru

kusadari hidupku hanya menunggu

suara 12 senapan dalam satu letupan

satu aba-aba pada satu sasaran

yaitu ajalku....

(Ignatius Waluyo AKA Kusni Kasdut, menuju eksekusi hukuman mati pada 16 Februari 1980).

dolly..dolly...

Sejarah Lokalisasi Gang Dolly terkubur sampai di sini?

Hari ini, Rabu 18 Juni 2014, akan menjadi hari yang bersejarah bagi warga Surabaya dan dunia prostitusi. Sebab, lokalisasi yang konon terbesar di Asia Tenggara, yakni lokalisasi yang terkenal dengan sebutan Gang Dolly, ditutup secara resmi oleh pemerintah Kota Surabaya.
Mulai hari ini, Kota Pahlawan ini ingin mengubah sebutan kota seribu Pekerja Seks Komersial (PSK) dengan kota budaya. Wali Kota Tri Rismaharini menginginkan, saat orang berbicara soal Surabaya, bukan lokalisasinya yang disebut-sebut, tapi budayanya. Surabaya yang memelihara budaya positif warganya.
Perwakilan ormas Islam Jatim menemui Risma di ruang kerjanya. (Kompas)
Perwakilan ormas Islam Jatim menemui Risma di ruang kerjanya. (Kompas)
Penutupan Dolly, adalah cerita akhir upaya Risma membersihkan Surabaya dari lokalisasi. Sebelumnya, tiga titik lokalisasi sudah ditutup sejak akhir 2013, oleh wali kota yang dijuluki Singa Betina ini, yaitu lokalisasi Dupak Bangunsari, Moroseneng, dan Sememi.
“Penutupan Dolly dan Jarak memang diakhirkan karena karakter masalah sosialnya lebih kompleks dari tiga lokalisasi yang ditutup sebelumnya,” kata Kepala Dinas Sosial Kota Surabaya Supomo, Selasa (18/6/2014) malam seperti dilansir Kompas.
Di Dolly dan Jarak ada puluhan wisma, ratusan mucikari, dan ribuan PSK. Mereka sudah hidup rukun berdampingan dengan warga setempat di lima RW, di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan selama puluhan tahun. Warga setempat pun memperoleh efek ekonomi dari adanya aktivitas prostitusi itu.
Wajar jika kemudian, warga pekerja lokalisasi menolak keras kebijakan penutupan yang berdasarkan Perda No 9 Tahun 1999 tentang larangan penggunaan bangunan untuk kegiatan prostitusi itu. Hampir sebagian besar pekerja Dolly dari pemilik wisma, mucikari, PSK, dan pedagang kecil, menolak keras penutupan. Mereka bahkan bersedia perang dengan pemerintah jika tetap akan ada penutupan.
Pekerja Dolly yang membentuk elemen Fron Pekerja Lokalisasi (FPL) juga menyatakan menolak segala bentuk kompensasi penutupan berupa modal usaha dan pelatihan keterampilan ekonomi yang diberikan pemerintah. Padahal, pemerintah melalui Kemensos sudah menganggarkan Rp 8 miliaran untuk penanganan PSK, Rp 1,5 miliar dari pemprov Jatim untuk mucikari, dan Rp 16 miliar dari Pemkot Surabaya untuk menebus wisma lokalisasi.
Pemkot Surabaya tetap ngotot melakukan penutupan. Masa depan generasi bangsa, adalah alasan yang selalu disebut-sebut walikota perempuan pertama Surabaya itu dalam mengutarakan alasan utama penutupan. Seremoni deklarasi penutupan Dolly sudah disiapkan dengan rapi pada Rabu (18/6/2014) malam, dengan mengundang Menteri Sosial, Salim Segaf Aldjufri sebagai deklarator.
Pasang surut pekerja Dolly
PSK di Dolly
PSK di Dolly
Lokalisasi Dolly berada di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya. Di kiri kanan jalan sepanjang kurang lebih 150 meter dengan lebar sekitar 5 meter ini banyak berdiri wisma-wisma, klub malam dan tempat karaoke.
Wilayah lokalisasi prostitusi yang beraktivitas mulai sekitar tahun 1960-an ini mencakup 5 RW dan berada di kawasan padat penduduk. Sebagian besar penduduk sekitar juga memanfaatkan keberadaan wisma-wisma itu dengan berjualan kopi, rokok ataupun makanan. Ditempat rumah-rumah itulah pada pekerja seks komersial dan juga mucikari tinggal.
Jumlah PSK di kawasan Dolly tidak pasti, kadang naik terkadang juga berkurang. Menurut Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, sebagian besar PSK yang ada di kawasan itu bukanlah warga Kota Surabaya. Sejak lama, dia juga telah mewanti-wanti agar jumlah PSK tidak bertambah. Bahkan pihak pemkot maupun pemprov terus berupaya memulangkan para PSK ke daerah asal.
Berdasarkan data Dinas Sosial Kota Surabaya beberapa hari sebelum dilakukan penutupan, jumlah PSK sebanyak 1.449 dengan mucikari sekitar 311 orang. Jumlah ini memang meningkat dari data akhir 2013 yang hanya sebanyak 1.181 orang.
Jumlah inilah yang diusulkan untuk mendapatkan uang saku dari Kementerian Sosial. Hal ini terkait dengan rencana penutupan Dolly pada 18 Juni 2014. Penambahan jumlah PSK ini terlihat setelah dihembuskan rencana penutupan Dolly.
Berdasarkan data, 90 persen PSK berasal dari luar Kota Surabaya bahkan luar Provinsi Jawa Timur. Sedang 10 persennya berasal dari Kota Surabaya. Seperti Kabupaten Kudus, Batang, Ciamis dan Bandung. Sedangkan yang dari Jawa Timur antara lain berasal dari Kabupaten Madiun, Malang, Gresik, Blitar, Mojokerto, Pasuruan, Magetan, Jember, Bojonegoro, Sidoarjo, Nganjuk, Tuban, Trenggalek dan Jombang.
Konon, jumlah PSK di kawasan Dolly sempat mencapai 5.000 orang. Inilah yang menjadikan Dolly sangat terkenal. Bahkan banyak yang mengatakan belum ke Surabaya jika belum ke Dolly.
Selain itu, Dolly biasanya akan mendapatkan PSK-PSK baru setelah usai libur lebaran. Sebab biasanya PSK lama akan membawa orang-orang dari kampungnya untuk ikut bekerja di Dolly.
Hal ini pulalah yang menjadikan alas an penutupan Dolly dilakukan sebelum puasa. Dan adanya penambahan PSK itu juga membuat Pemkot semakin tegas untuk melakukan penutupan, meski penolakan terus saja terjadi.
Sebagian besar PSK dan mucikari Dolly memang mengaku tidak setuju dengan rencana penutupan tersebut. Alasannya yakni karena bisnis esek-esek yang dijalankan sudah terlanjur makmur. Puluhan juta rupiah bisa diperoleh setiap bulannya dari satu wisma.
Setiap PSK bisa mengantongi uang sekitar Rp 13 juta hingga Rp 15 juta per bulan. Sedangkan sang mucikari tentu jauh lebih banyak yakni bisa mencapai Rp 60 juta per bulan. Geliat ekonomi ini bukan hanya dirasakan PSK dan mucikari, namun juga warga sekitar seperti pedagang kaki lima (PKL), pengayuh becak, tukang cuci pakaian PSK, hingga warga sekitar yang bekerja sebagai makelar PSK.
Hal inilah yang menjadi alasan mereka untuk tetap mempertahankan keberadaan Dolly. Pendapatan uang dalam jumlah besar yang bisa diperoleh dengan mudah. Hal ini pulalah yang membuat PSK Dolly selalu bertambah dan hanya sebagian kecil yang mau beralih profesi dan dipulangkan.
Sejarah Lokalisasi Gang Dolly
Demo penutupan Dolly
Demo penutupan Dolly
Menurut cerita lokalisasi ini didirikan Noni Belanda, Tente Dolly itu bukan yang pertama. Namun lebih terkenal se-antero Asia Tenggara dibanding pendahulunya, yaitu Jarak. “Jarak itu lebih dulu ada dibanding Gang Dolly,” kata Teguh, warga sekitar Gang Dolly seperti dilansir Merdeka.
Jarak sendiri, merupakan limpahan dari lokalisasi yang ada di Jagir, Wonokromo. Lantas siapa Tante Dolly, yang kelak namanya diabadikan sebagai Gang Dolly? Mengapa namanya begitu melegenda di jagat prostitusi Tanah Air? Teguh memaparkan, Noni asal Belanda itu adalah mucikari sekaligus pemilik wisma di Cemoro Sewu, yang berada di kawasan Pemakaman Kembang Kuning, Kelurahan Banyu Urip, Kecamatan Sawahan, Surabaya.
“Tante Dolly dan anaknya, itu pernah ngontrak rumah di daerah Ronggo Warsito, Kecamatan Wonokromo. Dan kebetulan yang dikontrak itu rumah ibu saya, yang saat ini usianya sudah 70 tahun lebih,” lanjut dia.
Wisma Tante Dolly di Cemoro Sewu yang dikelolanya sejak zaman kolonial itu, memang cukup tangguh kala itu, meski warga sekitar dan jemaah Masjid Rahmat pernah mengusir Tante Dally.
“Sampai suatu ketika, di wismanya, ada seorang turis India meninggal dan wismanya di-police line. Dengan terpaksa, pemerintahan waktu itu presidennya masih Pak Karno (Soekarno), melokalisir lokalisasi di kawasan Jarak, itu kejadiannya sekitar tahun 60-an (1960),” kata Teguh menceritakan cerita orangtuanya.
Namun, Tante Dolly menolak berkumpul dengan wisma-wisma yang ada di Jarak. Dia justru membuat wisma di tempat terpisah. Dan ternyata, bisnis lendir yang dikelola Tante Dolly ini, terbilang cukup sukses dibanding wisma-wisma yang ada di Jarak.
Maklum, wanita-wanita penghibur yang dimiliki Tante Dolly waktu itu cukup berkelas. Bahkan, paras wajah Tante Dolly mampu menghipnotis para pria hidung belang untuk mencicipi ‘madunya’ surga dunia. Dan karena itulah namanya cukup terkenal waktu itu. Bahkan, hingga saat ini, Tante Dolly menjadi legenda jagat prostitusi di Surabaya.
Sangking suksesnya bisnis Tante Dolly ini, dibuktikan dengan makin menjamurnya wisma di tempatnya itu, hingga akhirnya lokalisasi itu disebut Gang Dolly, yang cukup terkenal se-Asia Tenggara. Nama itu untuk mengenang sang legenda Tante Dolly, setelah kematiannya.
Namun hari ini, kekokohan Gang Dolly akan tinggal sejarah, yang tak akan dilupakan masyarakat Surabaya. Sebab, Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, dengan tegas memutuskan untuk menutup Gang Dolly dan Jarak pada 18 Juni 2014 ini. Deklarasi penutupan dilakukan di Gedung Islamic Center Jalan Dukuh Kupang, Surabaya.